Purwokerto – Bidan Rini Ulfatun Nazilah, seorang praktisi kesehatan ibu dan anak di Purwokerto, menegaskan bahwa peran suami dan keluarga inti merupakan faktor paling krusial dalam menjaga kesehatan ibu, mulai dari masa kehamilan hingga pemulihan pascamelahirkan. Menurutnya, tanpa dukungan kuat dari lingkaran terdekat, ibu akan sulit mencapai kesejahteraan fisik dan mental yang optimal.
Rini menekankan pentingnya dukungan emosional dan praktis dari suami. Dukungan ini termasuk mendampingi saat pemeriksaan, membantu pekerjaan rumah, serta menjadi penopang mental ibu. “Dukungan dari suami sangatlah fundamental. Suami adalah support system terdekat yang bisa memberikan dukungan emosional, fisik dan membantu pengambilan keputusan. Selain itu, keluarga inti berperan besar dalam memberikan bantuan praktis pascamelahirkan,” tuturnya.
Dukungan suami yang dinilai sebagai kunci utama membuat Rini menganjurkan agar suami terlibat sejak awal, yaitu dengan mendampingi istri saat pemeriksaan kehamilan. “Edukasi tentang pentingnya dukungan suami dan keluarga perlu diberikan. Suami wajib mengerti peran mereka untuk kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan, melahirkan, dan nifas,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rini mengungkap bahwa masalah kesehatan yang paling sering ia temui di masyarakat adalah anemia pada kehamilan dan kekurangan energi kronik (KEK). Anemia, jelasnya sering terjadi karena rendahnya kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet tambah darah, sementara KEK terjadi pada ibu hamil yang terlalu kurus atau kurang gizi. Dua kondisi ini berisiko tinggi meningkatkan komplikasi seperti perdarahan pascamelahirkan dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).
Selain isu gizi yang serius, Rini juga menyoroti miskonsepsi umum masyarakat, yaitu adanya paham tentang adat budaya zaman dulu yang mempengaruhi ibu bayi dan balita, sehingga mereka khawatir akan efek samping imunisasi. “Padahal, faktanya justru sebaliknya. Bayi dan balita yang rutin diimunisasi memiliki kekebalan tubuh lebih baik dan tidak mudah sakit dibandingkan yang tidak diimunisasi,” jelasnya.
Terkait pemeriksaan kehamilan, ia menekankan agar ibu tidak menunda. Waktu terbaik untuk memulai pemeriksaan kehamilan adalah ketika telat menstruasi, terutama bila ibu tidak menggunakan alat kontrasepsi (KB). Edukasi juga diberikan mengenai ketidaknyamanan ibu selama hamil, agar ibu tidak merasa cemas akan perubahan tubuh pada kehamilannya.
Terkait kesehatan mental, Rini juga memaparkan perbedaan mendasar antara baby blues dan depresi pascamelahirkan (PPD), Baby blues adalah perubahan suasana hati ringan yang terjadi sebentar, hanya beberapa hari hingga maksimal dua minggu. Ibu masih bisa menjalankan aktivitas harian. sedangkan Depresi pascapersalinan (Postpartum Depression) adalah kondisi lebih parah dan berlangsung lebih lama. PPD membuat ibu sangat sulit berfungsi dan sering memerlukan bantuan profesional medis. Untuk mengatasi risiko mental Postpartum Rini mendorong ibu untuk istirahat cukup, makan makanan bergizi, berbagi beban dengan pasangan atau keluarga, serta meluangkan waktu untuk diri sendiri. Ia juga menyarankan ibu untuk berbicara dengan orang terpercaya atau bergabung dengan komunitas ibu baru sebagai bagian dari support system.
Editor : Lestiani Reza Anjarfari
