Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Begadang, Stres, dan Stroke di Usia Muda

dr. Shinta Wulansari Sp.N (Sumber: Web Rumah Sakit Hermina)

PURWOKERTO – Banyak masyarakat yang masih keliru memahami tentang kesehatan otak dan sistem saraf. Seorang dokter spesialis saraf memberikan penjelasan lengkap mengenai berbagai isu kesehatan saraf yang sering menjadi kekhawatiran masyarakat.

Shinta Wulansari (52), dokter spesialis saraf kelahiran Balikpapan tahun 1973. Lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2014. Saat ini, ia berpraktik di Rumah Sakit Hermina Purwokerto dan memiliki keahlian dalam menangani berbagai penyakit yang berkaitan dengan otak dan sistem saraf, termasuk saraf tulang belakang dan saraf tepi.

Begadang tidak langsung merusak fungsi otak, tetapi membuat otak menjadi kelelahan dan menurunkan kemampuan fokus sementara. “Saat seseorang begadang atau terlalu lama menggunakan gadget, kadar dopamin di otak dapat meningkat lalu menurun dengan cepat. Perubahan kadar dopamin ini dapat menimbulkan rasa lemas, kehilangan semangat, dan kelelahan, terutama jika paparan gadget terus-menerus dilakukan karena otak terus-menerus dipacu” jelasnya.

Penggunaan gadget berlebihan juga tidak merusak saraf tertentu, melainkan hanya membuat otak menjadi lelah sehingga membuat seseorang menjadi malas dan kurang semangat. “Apalagi kalau kebanyakan nonton pornografi, itu benar-benar membuat otak kita menjadi rusak. Cara pencegahannya, kasih waktu, gunakan secukupnya sekitar 30 menit lalu berhenti. Mulai lihat-lihat sekitar seperti jalan-jalan, lihat pemandangan atau lainnya. Memang memakan waktu tapi kamu menjadi lebih sehat,” ujarnya.

Terkait stres berlebihan, ia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak menyebabkan gangguan sistem saraf seperti kelumpuhan. “Kalau stres bisa bikin gangguan saraf yang serius, semua orang sudah lumpuh dong. Tidak ada manusia yang tidak stres. Stres itu wajar karena stres adalah situasi yang terjadi di luar kendali kita, contohnya seperti seperti macet saja terkadang bikin kita stres,” jelasnya. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak bisa menyeimbangkan antara stres dengan kemampuan mengelolanya.

Otak manusia memiliki mekanisme untuk mengelola stres agar bisa seimbang. “Yang jadi masalah adalah ketika kita tidak bisa mengelola stresnya dengan baik. Beberapa orang tidak seimbang saat me-manage antara stressor dan responnya, tapi itu biasanya di jiwa bukan di otak. Jadi apakah stres itu bisa membuat kita menjadi gila? Tidak, karena kita bisa me-manage-nya,” ungkapnya.

Ia mempertegas bahwa stres berlebihan tidak langsung menyebabkan gangguan saraf yang serius. “Otak menjadi lelah, tapi kalau gangguan sistem saraf yang konotasinya seperti stroke atau lumpuh, itu tidak. Tidak mungkin orang stres karena kerja terus jadi lumpuh, kecuali dia ada darah tinggi atau faktor risiko lainnya,” tegasnya.

Kasus stroke pada usia muda cukup banyak terjadi, dengan penderita kebanyakan adalah laki-laki. “Pasien muda yang mengalami stroke ringan itu banyak. Biasanya laki-laki paling banyak karena faktor kelainan darah, bukan karena dia begadang atau apa. Biasanya genetik,” ungkapnya. Ia mengaku pernah menangani pasien stroke yang masih berusia 25 tahun.

Gangguan saraf seperti stroke dapat pulih apabila ditangani dengan cepat dan tepat. “Pasien saya ada yang mengalami stroke dan bisa berjalan kembali setelah menjalani pengobatan serta fisioterapi. Namun, hal itu hanya memungkinkan bila penanganan dilakukan dalam waktu kurang dari empat jam sejak gejala muncul. Tapi kalau lumpuh itu susah,” jelasnya.

Yang perlu dikontrol bukanlah gejalanya, melainkan faktor risikonya. “Jadi stroke itu bisa sembuh, tapi kalau gejalanya tidak bisa dikontrol, yang bisa dikontrol adalah faktor risikonya. Setelah dia sembuh, nanti gulanya harus dikontrol, tensinya harus dikontrol, dan rutin meminum obat. Kalau tidak rutin ya nanti balik lagi,” paparnya.

“Susahnya di negara kita, edukasi yang disampaikan oleh puskesmas itu tidak benar-benar didengar dan diterapkan oleh masyarakat” tambahnya menyayangkan kondisi tersebut.

Sebagai penutup, ia memberikan imbauan tegas kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan otak dan saraf. “Darah tinggi, kencing manis itu obatnya harus diminum rutin. Khususnya anak muda, jaga pola makan, hidup sehat, dan olahraga itu harus dibiasakan,” tutupnya.

Editor: Shafaa Veda Artes Tiarni

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *