Banyumas– Bahasa Ngapak, yang terkenal dengan slogan “Ora Ngapak Ora Kepenak”, kini semakin mendapat perhatian sebagai bagian penting dari kebudayaan Banyumasan. Di tengah perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar, Bahasa Ngapak tetap menjadi identitas lokal yang unik dan membedakan masyarakat Jawa Tengah bagian barat dari daerah lainnya.
Bahasa Ngapak digunakan di wilayah barat Jawa Tengah seperti Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, hingga Tegal dan Brebes. Dialek ini memiliki kekhasan pada pelafalan vokal “a” yang tidak berubah menjadi “o”, seperti pada kata sapa (siapa), serta pelafalan konsonan “k” di akhir kata yang tetap terdengar kuat, seperti bapak. Keunikan ini menjadi ciri khas yang menandai perbedaan Bahasa Ngapak dari dialek Jawa lainnya.
Menurut Uhlenbeck, Bahasa Ngapak termasuk dalam rumpun Basa Jawa Bagian Kulon yang meliputi subdialek Banyumasan, Tegalan, dan Bumiayu. Akar sejarahnya diperkirakan berasal dari masyarakat Kerajaan Galuh Purba, yang hidup di sekitar Gunung Slamet dan Ciremai. Dari wilayah inilah berkembang budaya dan bahasa yang kemudian dikenal sebagai Bahasa Ngapak.
Ahli budaya Banyumas, Budiono Herusatoto, menjelaskan bahwa daerah penutur Bahasa Ngapak berada jauh dari pusat kerajaan, sehingga budayanya berkembang secara alami tanpa banyak dipengaruhi oleh struktur kebahasaan kerajaan Jawa. “Dialek Ngapak adalah salah satu bentuk kebudayaan yang tumbuh tanpa pengaruh kuat dari sistem kebahasaan kerajaan,” tulisnya dalam Banyumas: Sejarah, Budaya, dan Watak. Karena itu, Bahasa Ngapak dianggap sebagai bentuk bahasa Jawa yang paling dekat dengan bahasa Jawa kuno.
Namun, dalam perkembangannya, eksistensi Bahasa Ngapak mulai menghadapi tantangan. Banyak generasi muda, terutama mereka yang merantau ke kota besar. Beberapa merasa kurang percaya diri menggunakan logat Ngapak dalam percakapan sehari-hari karena dianggap aneh atau lucu oleh penutur dialek lain. Padahal, menurut ahli bahasa, Bahasa Ngapak justru merupakan salah satu bentuk bahasa daerah yang paling murni dan memiliki nilai sejarah tinggi.
Sebagai upaya pelestarian, kini banyak pengguna logat Ngapak yang membuat konten digital kreatif di media sosial seperti video TikTok menggunakan bahasa Ngapak sebagai ciri khas mereka, misalnya, pada akun tiktok @raflychaniag0 dan @Desy Genoveva. Dengan demikian, bahasa daerah ini tidak hanya dipakai dalam acara budaya tradisional tetapi juga muncul dalam konten sehari-hari yang digemari generasi muda serta menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa ibu.
Editor: Restu Anugrah Syafa’atullah
