
Banyumas — Kekhawatiran mengenai menurunnya literasi mendalam di Indonesia kembali mencatat meskipun Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional menunjukkan peningkatan pada tahun 2024. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) melaporkan bahwa IPLM tahun 2024 mencapai 73,52 poin, melampaui target tahunan dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, para pengamat literasi menilai bahwa kenaikan indeks tersebut belum berbanding lurus dengan kebiasaan membaca mendalam di kalangan generasi muda.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola konsumsi informasi remaja mengalami perubahan drastis. Generasi muda jauh lebih sering menghabiskan waktu di media sosial untuk menonton video berdurasi singkat atau membaca potongan informasi cepat yang berseliweran di timeline. Pola ini dinilai menggeser budaya membaca teks panjang seperti buku, artikel analitis, maupun esai. Akibatnya, kemampuan memahami bacaan kompleks, menganalisis informasi, dan mempertahankan fokus dalam waktu lama diperkirakan mengalami penurunan.
Pengamat literasi menilai bahwa fenomena ini berhubungan dengan gaya hidup digital yang serba cepat. Informasi singkat dan instan dianggap lebih praktis dan sesuai dengan ritme aktivitas sehari-hari. Namun, di sisi lain, kemampuan berpikir kritis dan mendalam justru berpotensi tergerus. Rendahnya literasi digital juga menjadi sorotan karena masyarakat, terutama remaja, sering kesulitan membedakan informasi kredibel dan opini tidak berdasar di tengah derasnya arus konten.
Perpusnas sendiri menegaskan bahwa peningkatan IPLM dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) belum cukup tanpa adanya penguatan budaya literasi di masyarakat. Pemerintah melalui berbagai kementerian tengah mendorong program peningkatan literasi, termasuk menyediakan akses perpustakaan yang lebih merata, memperluas layanan digital, dan menjalin kolaborasi dengan komunitas literasi. Berbagai perpustakaan daerah juga mulai menyesuaikan layanan agar lebih dekat dan relevan bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Para aktivis literasi menekankan bahwa upaya memperkuat literasi tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Dengan intervensi yang tepat, budaya membaca diharapkan dapat kembali mengakar sehingga generasi muda tidak hanya menjadi konsumen konten singkat, tetapi juga pembaca kritis yang mampu memahami informasi secara lebih mendalam.
Jika tren konsumsi konten singkat berlanjut tanpa diimbangi literasi yang kuat, kemampuan analisis dan penalaran generasi muda dikhawatirkan melemah. Namun, dengan kolaborasi berbagai pihak, kesempatan memperbaiki budaya literasi Indonesia masih terbuka lebar.
Editor:
