Pendidikan Bahasa Menjadi Kunci Mengurai Miskonsepsi Medis di Masyarakat

Purwokerto– Kesalahan penggunaan istilah medis yang terus berkembang di tengah masyarakat menandai adanya masalah mendasar dalam pendidikan bahasa dan pemahaman istilah kesehatan. Di berbagai fasilitas kesehatan, miskonsepsi muncul bukan hanya akibat kurangnya informasi medis, tetapi karena lemahnya proses pembelajaran bahasa kesehatan yang berlangsung di lingkungan sosial sehari-hari. Fenomena ini menempatkan dunia medis pada posisi unik, yaitu bukan hanya sebagai tempat penyembuhan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bahasa yang krusial bagi keselamatan pasien.

Yusi (25), tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit di Purwokerto, menjelaskan bahwa banyak istilah keliru beredar bukan dari tenaga kesehatan, melainkan dari percakapan informal antarpengunjung pasien. “Penyebaran informasi yang tidak akurat maka lama-kelamaan akan menjadi benar. Pengunjung pasien paling sering menyebarkan istilah medis keliru,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pola penyebaran seperti ini membuat masyarakat merasa yakin pada istilah yang sebenarnya menyimpang dari terminologi medis.

Kesalahan istilah seperti diabetes kering dan diabetes basah menunjukkan bagaimana persepsi masyarakat terbentuk dari bahasa lisan yang diwariskan antargenerasi. Dalam praktik medis, penggolongan tersebut tidak dikenal karena diabetes diklasifikasikan berdasarkan mekanisme gangguannya. Demikian pula istilah angin duduk yang sering disamakan masyarakat dengan masuk angin, padahal kondisi tersebut merupakan angina pectoris yang membutuhkan penanganan segera. Kesalahan bahasa pada konteks medis semacam ini dapat memengaruhi kemampuan pasien memahami urgensi penyakitnya.

Yusi menuturkan bahwa edukasi kesehatan sebenarnya telah berjalan, tetapi cenderung bersifat reaktif mengikuti perkembangan kasus. “Edukasi biasanya baru diberikan saat waktunya diperlukan, contohnya saat maraknya demam berdarah atau Covid-19. Lalu saat ada pasien TBC, barulah dokter dan perawat memberi edukasi kepada masyarakat,” jelasnya. Ia menilai pola musiman seperti ini membuat terlalu banyak ruang bagi istilah keliru berkembang di periode ketika tidak ada edukasi intensif.

Kendala lain yang sering muncul adalah hambatan psikologis pasien. Banyak orang, terutama kalangan orang tua, memilih mengiyakan penjelasan medis meski belum benar-benar memahami istilah yang disampaikan. “Warga mengiyakan sudah paham namun ragu apakah paham atau tidak, apalagi orang tua,” ungkap Yusi. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan komunikasi kesehatan tidak hanya terletak pada informasi, tetapi juga pada kemampuan memahami dan menggunakan bahasa yang tepat.

Melihat kondisi tersebut, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa literasi kesehatan sejatinya dimulai dari literasi bahasa. Ketepatan istilah, kejelasan makna, serta keberanian untuk bertanya menjadi bagian dari pendidikan bahasa yang harus terus ditumbuhkan. Dengan memperkuat kemampuan berbahasa dalam konteks medis, masyarakat tidak hanya belajar memahami istilah, tetapi juga mampu mengambil keputusan kesehatan yang lebih tepat dan aman.

Editor: Renada Queentanisa Istifari

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *