Strategi Guru SD Hadapi Tantangan Literasi

Cilacap – Mengajarkan membaca dan menulis permulaan di Kelas 1 Sekolah Dasar (SD) memiliki tantangan tersendiri. Hal ini dirasakan betul oleh Tasno, seorang guru Kelas 1 SD di Dusun Tajursereh, Majenang. Di tengah keterbatasan fasilitas sekolah yang mengharuskan penggunaan ruang kelas bergantian dengan kelas 2, Tasno harus memutar otak menghadapi beragam kesiapan literasi siswa.

Berdasarkan penuturan Tasno, secara umum pengenalan huruf siswa di kelasnya sudah mencapai seratus persen. Namun, tantangan muncul pada tahap merangkai suku kata menjadi kata dan kalimat.

“Memahami bunyi huruf sudah baik, tetapi dalam menyusun suku kata dan membaca kalimat sederhana, masih ada anak yang mengalami kesulitan,” ujar Tasno saat diwawancarai, pada 24 November 2025.

Kesenjangan Latar Belakang dan Tantangan Gawai
Tasno mengungkapkan bahwa kesenjangan kemampuan membaca di kelasnya cukup terasa. Salah satu penyebab utamanya adalah latar belakang pendidikan sebelumnya. “Kesenjangan tentunya ada, karena terdapat dua siswa yang bukan lulusan Taman Kanak-Kanak (TK),” jelasnya. Siswa yang tidak melalui jenjang TK cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan konsep literasi dasar.

Selain latar belakang akademis, tantangan eksternal juga menjadi hambatan. Tasno menyoroti kurangnya minat baca, minimnya perhatian orang tua, hingga faktor lingkungan. Namun, satu masalah modern yang sangat meresahkan adalah kecanduan gawai.

“Masalah ini ditambah anak kecanduan game di HP,” tegas Tasno. Hal ini berdampak pada kurangnya fokus dan keinginan siswa untuk membuka buku.

Strategi Kelompok Kecil di Tengah Keterbatasan
Meski mengajar di sekolah dengan sarana terbatas, Tasno tidak kehabisan akal. Ia menerapkan metode pendekatan interaktif yang menyenangkan. Penggunaan media sederhana seperti kartu huruf dan kegiatan membaca bersama menjadi andalan.

Untuk mengatasi kesenjangan kemampuan antara siswa yang sudah lancar membaca dan belum, Tasno menggunakan strategi diferensiasi.

“Saya membagi siswa menjadi kelompok kecil. Dengan cara ini, siswa lebih mudah menerima instruksi,” ungkapnya. Strategi ini memastikan siswa yang masih tertinggal mendapatkan bimbingan intensif, sementara siswa yang sudah lancar tetap mendapatkan tantangan yang sesuai.

Di akhir wawancara, Tasno menekankan bahwa siswa tidak bisa belajar sendiri. Peran orang tua di rumah sangat penting. Ia berpesan agar orang tua untuk mengurangi penggunaan gawai pada anak dan menggantinya dengan buku cerita bergambar yang menarik.

“Ajaklah anak membaca bersama sesuai dunia anak. Kalau bisa, jadilah contoh buat anak dalam membaca, orang tua harus gemar membaca juga, ” pesannya.

Tasno menyarankan tiga kegiatan literasi sederhana yang bisa dilakukan di rumah:
Membaca bersama: Membacakan buku dengan intonasi menarik untuk menambah kosakata
Diskusi: Mengajak anak menceritakan kembali isi buku untuk melatih pemahaman.
Lingkungan Mendukung: Menciptakan area baca khusus yang nyaman di rumah.

Melalui kolaborasi antara strategi guru di sekolah dan dukungan orang tua di rumah, diharapkan tantangan literasi di awal kelas dapat teratasi dengan baik.

Editor: Yasfika Afilia

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *