Purwokerto – Bahasa Inggris menjadi jembatan yang mengantarkan seorang perempuan tuna wicara bernama Dessy untuk dikenal oleh banyak teman dari luar negeri melalui pesan Messenger di Facebook. Keterbatasan bicaranya tidak menghalangi keinginannya berkomunikasi. Justru melalui pesan teks, ia dapat membangun percakapan dengan penutur asing dari berbagai negara. Komunikasi itu berlangsung tanpa suara, tetapi intens melalui tulisan yang ia kirim secara langsung dalam pertemanan sehari-hari.
Dessy mengalami gangguan bicara sejak kecil akibat terjatuh, kondisi yang sejalan dengan disartria, yaitu gangguan motorik bicara yang membuat suara tidak jelas meskipun kemampuan berpikir tetap normal. Karena kesulitan berbicara secara lisan, ia memilih menulis sebagai cara untuk tetap dapat berinteraksi. Dalam dunia terapi wicara, metode augmentative and alternative communication (AAC) dianjurkan sebagai alternatif ketika kemampuan bicara tidak dapat berfungsi optimal. Pilihan ini membuat penyintas gangguan bicara tetap dapat bersosialisasi melalui tulisan.
Ketertarikan Dessy pada Bahasa Inggris dan komunikasi luar negeri dimulai pada 2014. Saat itu ia aktif menulis komentar dalam Bahasa Inggris pada unggahan di Facebook hingga akhirnya memiliki sahabat dari Brasil. Persahabatan itu membuka jalan bagi hubungan pertemanan yang lebih luas: dari Brasil, Amerika, Eropa, hingga Asia. Interaksi selanjutnya berlangsung lewat komentar, pesan Messenger, dan chat WhatsApp yang mempertemukannya dengan banyak orang dari luar negeri, termasuk mereka yang sama-sama penyandang tuna wicara.
Melalui interaksi tersebut, Dessy berlatih bahasa Inggris secara intensif. Ia menuliskan pesan secara spontan sesuai konteks percakapan, memilih kosakata yang tepat, dan mengatur kalimat agar mudah dipahami. Sesekali ia memanfaatkan kamus digital atau alat penerjemah untuk mempelajari kata baru, tetapi sebagian besar percakapan berkembang secara alami. Kebiasaan ini memperkaya kosakata, memperbaiki struktur penulisan, dan membangun kepercayaan dirinya dalam komunikasi lintas bahasa.
Hubungan pertemanan yang terjalin lewat media sosial berkembang menjadi persahabatan yang hangat. Dalam mengenalkan diri, Dessy menyampaikannya dengan jujur dan santun. Ia tidak tergesa-gesa membalas pesan, tetapi memastikan bahwa tulisannya jelas, tepat, dan nyaman dibaca. Kesabaran dan kejujuran itu membuat banyak teman asing merasa dihargai dan terus menjalin komunikasi dengannya, bahkan hingga bertahun-tahun.
Bagi Dessy, pesan di media sosial bukan sekadar alat berkirim teks, melainkan ruang untuk bersuara, menyampaikan perasaan, berbagi cerita, dan membangun ikatan sosial. Melalui tulisan, ia dapat tertawa, berbagi pengalaman, memberi dukungan, bahkan dikenal sebagai sosok yang hangat dan dapat dipercaya. Perjalanan komunikasi Dessy membuktikan bahwa keterbatasan bicara tidak memutus hubungan dengan dunia. Lewat huruf yang ia tekan di layar ponsel, ia menemukan kejelasan, persahabatan, dan dunia yang lebih luas.
Editor: Zaskia Ayu Nissa
