GNN Diluncurkan, Pemerintah Ajak Masyarakat Bangun Budaya Numerasi

Purwokerto—Peluncuran Gerakan Numerasi Nasional (GNN) oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Agustus 2025 bukan sekadar program pendidikan, melainkan sebuah panggilan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk ikut aktif membangun budaya numerasi dari akar rumput. Dengan mengusung tema “Mahir Numerasi, Majukan Negeri”, gerakan ini mengajak guru, orang tua, komunitas lokal, hingga warga umum untuk berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak-anak sebagai fondasi daya saing bangsa.

Dilansir dari gurudikdas.dikdasmen.go.id, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa numerasi bukan hanya soal pelajaran di sekolah. Ia menyebut numerasi sebagai akar dari berbagai disiplin ilmu sehingga jika akarnya kuat, batang dan ranting ilmu lainnya akan tumbuh kokoh.  Menurutnya, numerasi merupakankemampuan dasar yang harus dimiliki setiap warga negara agar mampu berpikir kritis, logis, dan analitis dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Al, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, numerasi memiliki peran yang sangat penting karena diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti jual beli. Namun, ia menyoroti dua kesulitan terbesar pada anak-anak. “Doktrin kalau misalnya matematika itu sulit sudah menjamur di pikiran anak-anak, jadi mereka takut untuk belajar atau mencoba. Terus yang kedua adalah tidak adanya pendampingan lebih lanjut di rumah,” ujar Al dalam wawancara (23/11/2025).

Al menegaskan bahwa pendampingan di rumah menjadi fondasi awal tumbuhnya kemampuan numerasi. “Yang pertama tentu pendampingan. Kalau di rumah mereka juga diajarkan bagaimana mengaplikasikan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari, itu sangat membantu. Kalau pendampingan orang tua sendiri dirasa kurang, itu bisa anak diikutkan bimbel. Di situ anak mendapat ilmu tambahan atau waktu lebih untuk belajar,” jelasnya. Menurut Al, akses terhadap pendampingan lanjutan dapat menjadi jembatan untuk menutup kesenjangan pemahaman numerasi.

Pandangan serupa disampaikan Alex, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, dalam wawancara pada Minggu (23/11/2025). Menurutnya, persoalan numerasi tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan pola pembelajaran di sekolah. Guru, katanya, sering terikat target penyelesaian materi dalam satu semester sehingga kesenjangan pemahaman antarsiswa semakin melebar.

Selain faktor sekolah, Alex menilai bahwa keluarga memegang peran penting dalam membangun kepercayaan diri anak terhadap angka. Orang tua diharapkan tidak hanya menyerahkan proses belajar kepada pihak sekolah, tetapi juga menyediakan waktu untuk meninjau kembali materi, memberi latihan sederhana, dan mengintegrasikan numerasi dalam aktivitas sehari-hari.

Masyarakat berharap GNN tidak hanya menjadi program formalitas, tetapi dapat menjadi gerakan nyata yang mendongkrak skor PISA Indonesia. Alex pun menyamoaikan harapannya, “Anggaplah angka-angka itu sebagai teman. Jadi ketika melihat soal berupa angka, mereka tidak khawatir duluan, tetapi mencoba untuk memecahkan masalah itu,” tutup Alex, merangkum harapan agar ketakutan terhadap matematika dapat diakhiri.

Editor: Alvina Putri Rustanti

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *