Purwokerto – Raksasa boneka khas Betawi, Ondel-Ondel, saat ini kian marak ditemui sebagai instrumen mengamen di jalanan Ibu Kota. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari budayawan dan masyarakat Betawi, yang menilai praktik ini telah menggerus nilai luhur dan fungsi sakral Ondel-Ondel sebagai warisan budaya.
Ondel-Ondel yang dulunya merupakan bagian tak terpisahkan dari upacara adat dan pawai penyambutan, kini justru menjadi komoditas ekonomi jalanan. Boneka setinggi lebih dari dua meter ini diarak oleh sekelompok orang, kadang disertai musik seadanya untuk meminta sumbangan atau uang kepada pengguna jalan. Alasan utama maraknya fenomena ini adalah faktor ekonomi, di mana sebagian masyarakat menjadikan mengamen sebagai mata pencaharian.
“Saya melihatnya sedih. Ondel-Ondel itu kan dulu dipakai untuk tolak bala, untuk hajatan besar. Sekarang kok jadi ‘pengemis’? Seharusnya ondel-ondel hadir di panggung-panggung budaya, di acara resmi Pemerintah Provinsi, atau di festival. Itu baru namanya menghargai. Saya yakin, leluhur Betawi tidak menginginkan Ondel-Ondel kita jadi begini,” ujar Usman Rozak seorang sesepuh adat Betawi dari kawasan Jakarta Barat.
Keprihatinan ini tidak hanya datang dari tokoh adat, tetapi juga seniman dan akademisi. Mereka menyoroti perlunya intervensi pemerintah daerah dan lembaga budaya dalam mengembalikan martabat Ondel-Ondel. Pelaku yang menggunakan Ondel-Ondel untuk mengamen sebagian besar adalah masyarakat urban yang memanfaatkan ikon budaya ini untuk mencari nafkah, seringkali tanpa pengetahuan yang memadai mengenai sejarah dan filosofi Ondel-Ondel.
Kejadian ini telah terjadi dan semakin meningkat intensitasnya dalam satu dekade terakhir, terutama terlihat di persimpangan jalan raya, lampu merah, dan pusat keramaian di berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Mengembalikan martabat Ondel-Ondel bukan hanya tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab moral kolektif seluruh warga Jakarta. Langkah konkret yang harus diambil adalah revitalisasi pusat-pusat pelatihan seni dan budaya di kampung-kampung Betawi, memastikan transfer pengetahuan dan keahlian yang otentik kepada generasi muda. Dengan menanamkan etika bahwa warisan budaya tidak boleh diperdagangkan secara sembarangan, kita dapat mengubah pandangan masyarakat. Jika setiap warga dan komunitas bersepakat memosisikan Ondel-Ondel sebagai karya seni bernilai tinggi yang pantas tampil di tempat terhormat, boneka raksasa ini akan lepas dari stigma pengamen jalanan dan kembali menjadi Duta Kebudayaan sejati Ibu Kota, sebagaimana mestinya.
Editor: Luthfiyah Hanif Khairunnisa
