Dibalik Lampu Meja yang Tak Pernah Padam: Potret Lembur Mahasiswa Masa Kini

Sumber: Generated by Gemini AI

Di tengah malam yang semakin sunyi, lampu-lampu meja di kamar kos hingga sudut perpustakaan masih menyala terang. Dari balik cahaya itu, tampak mahasiswa yang tetap terjaga, berjuang menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk di layar laptop mereka, ditemani tumpukan buku dan kertas catatan yang berserakan di meja. Bagi banyak mahasiswa, lembur bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari tekanan akademik dan tuntutan organisasi yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Setiap malam, kawasan kampus dan lingkungan kos berubah menjadi ruang hening yang menyimpan cerita kelelahan yang tidak terlihat pada siang hari. Media sosial dipenuhi keluhan mengenai tenggat tugas, sementara di dunia nyata banyak mahasiswa bertahan di depan laptop dengan mata lelah dan secangkir kopi yang tak lagi hangat. Fenomena lembur ini semakin melekat dalam kehidupan mahasiswa, bukan hanya karena banyaknya tugas, tetapi juga akibat budaya produktivitas berlebihan yang berkembang di lingkungan akademik. Di balik indeks prestasi yang terus dikejar dan pencapaian organisasi yang sering dibanggakan, tersimpan cerita tentang kecemasan, keletihan, dan perjuangan untuk tetap bertahan.

Dalam beberapa minggu terakhir, lembur hampir menjadi rutinitas bagi Anisa, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia semester 3 yang ditemui sedang menyelesaikan tugas di kamar kosnya. Ia mengaku sering kali baru bisa beristirahat menjelang dini hari karena merasa tidak memiliki pilihan lain. “Banyak sekali tugas dan project untuk ujian akhir semester, dan semuanya sering datang bersamaan. Kalau tidak lembur atau mulai dicicil, saat mendekati deadline pasti keteteran,” ungkapnya. Meskipun tubuhnya sering terasa lelah, Anisa tetap berusaha menyelesaikan semua tugas tepat waktu demi menjaga nilai dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa aktif.

Pengalaman serupa juga ia rasakan dalam keseharian perkuliahan dan kegiatan organisasi. Anisa menjelaskan bahwa rapat organisasi sering berlangsung hingga malam, menyisakan sedikit waktu untuk mulai mengerjakan tugas lebih awal. “Kadang saya merasa harus membagi diri menjadi dua. Siang untuk organisasi, malam untuk tugas kuliah,” ujarnya sambil tersenyum letih. Ia berharap kampus dan organisasi mahasiswa dapat memberikan ruang waktu yang lebih seimbang agar mahasiswa tidak terus-menerus terjebak dalam pola bekerja larut malam.

Potret lampu meja yang tidak pernah padam ini, menggambarkan kehidupan mahasiswa masa kini yang dipenuhi ambisi sekaligus tekanan. Di satu sisi, mereka berusaha menjaga prestasi dan memenuhi tanggung jawab sebaik mungkin. Namun di sisi lain, mereka harus menghadapi kelelahan yang perlahan menumpuk dari hari ke hari. Fenomena ini menunjukkan perlunya perhatian dan dukungan yang lebih besar agar mahasiswa dapat mencapai prestasi tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik maupun mental mereka.

Editor: Anindhiya Chatriana Fadhillah

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *