Organisasi Mahasiswa Bukan Sekadar Tempat “Ngumpul”, Saatnya Menghidupkan Kembali Jiwa Aktivisme Kampus

Sumber: Generated by Gemini AI

Purwokerto–Organisasi mahasiswa di kampus kerap dipandang sebagai tempat berkumpul, mencari teman, atau sekadar menambah pengalaman. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, esensi organisasi sebagai ruang pengembangan kepemimpinan dan aktivisme akademik mulai memudar. Banyak kegiatan berubah menjadi acara seremonial semata: rapat rutin tanpa arah, seminar bertema besar tetapi minim tindak lanjut, dan proyek kerja yang hanya menggugurkan kewajiban program.

Fenomena ini juga dirasakan langsung oleh mahasiswa. Risma Tri Nurhana, mahasiswa semester tiga, mengaku organisasi di kampusnya mulai kehilangan roh perjuangan. “Sekarang banyak acara organisasi yang sifatnya hanya formalitas. Diskusi kritis makin jarang, padahal dulu itu yang membuat kami merasa hidup sebagai mahasiswa,” ujarnya ketika ditemui setelah rapat kepanitiaan.

Kondisi tersebut menjadi alarm penting bagi seluruh civitas akademika. Kampus seharusnya menjadi tempat mengasah nalar kritis dan kemampuan memimpin, bukan sekadar wadah dokumentasi kegiatan untuk media sosial. Aktivisme mahasiswa perlu hadir kembali sebagai kontrol sosial, penggerak perubahan, dan mitra kritis bagi institusi pendidikan.

Untuk itu, revitalisasi organisasi menjadi sangat mendesak. Dibutuhkan keberanian merancang kegiatan yang lebih substantif, seperti riset kecil lapangan, forum diskusi publik, proyek sosial berbasis kebutuhan masyarakat, hingga advokasi kebijakan kampus yang berpihak pada mahasiswa.

Tanpa langkah konkret tersebut, organisasi mahasiswa hanya akan menjadi formalitas yang kehilangan makna. Menghidupkan kembali jiwa aktivisme bukan hanya kewajiban pengurus, tetapi juga seluruh mahasiswa yang menginginkan kampus sebagai ruang tumbuhnya pemikiran dan karakter pemimpin masa depan.

Editor: Naifa Versyandari

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *