Bagi banyak mahasiswa, semester tiga terasa seperti berlari tanpa jeda. Setiap selesai satu tugas, tugas lain sudah menunggu di belakangnya. Ritme kuliah yang semula masih terasa ringan mendadak berubah menjadi maraton panjang yang menguras energi. Bukan hal baru jika semester tiga disebut sebagai fase paling sibuk dan paling melelahkan selama masa kuliah.
Memasuki semester ini, hampir semua mata kuliah menghadirkan tuntutan yang lebih besar. Proyek individu atau kelompok, esai analisis, presentasi mingguan, hingga tugas individu yang tidak pernah berhenti berdatangan. Deadline sering kali hanya terpaut beberapa hari, atau bahkan bertumpuk dalam minggu yang sama. Tidak heran jika banyak mahasiswa merasa kewalahan karena waktu yang tersedia terasa tidak lagi cukup.
“Sampai bingung mau ngerjain yang mana dulu,” ujar Ainun, mahasiswa semester tiga yang merasa tugas datang bertubi-tubi tanpa jeda. Keluhan serupa juga banyak dilontarkan mahasiswa lain yang tengah berusaha menyeimbangkan tugas dari berbagai mata kuliah.
Bagi mahasiswa yang memasuki semester tiga, perubahan ritme ini terasa cukup signifikan. Materi perkuliahan mulai berfokus pada hal-hal yang lebih spesifik sesuai bidang studi, sehingga tugas yang diberikan pun menuntut pemahaman yang lebih mendalam. Di tengah meningkatnya beban tersebut, banyak mahasiswa merasa perlu mempertahankan nilai mereka, bukan karena tuntutan orang lain, melainkan tekanan dari diri sendiri untuk menjaga IPK agar tetap stabil.
Rasa lelah ini muncul karena semester tiga menandai dimulainya fase perkuliahan yang lebih serius. Mata kuliah tidak lagi bersifat pengantar dan mulai menuntut pemahaman yang lebih dalam. Tugas-tugas pun menjadi lebih beragam, mulai dari proyek kelompok, laporan, hingga presentasi yang diberikan hampir bersamaan. Akibatnya, mahasiswa sering harus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa jeda yang cukup, sehingga tercipta rutinitas padat yang sangat menguras energi.
Setelah perkuliahan selesai, sebagian besar mahasiswa semester tiga jarang langsung pulang ke kos. Banyak dari mereka yang memilih singgah ke kafe atau perpustakaan untuk melanjutkan tugas yang belum selesai. Tempat-tempat itu menjadi ruang singgah sementara, tempat mahasiswa berusaha mengejar deadline sambil mencicil pekerjaan dari mata kuliah lain.
Meski melelahkan, semester tiga bukan hanya tentang tumpukan tugas. Ini adalah masa adaptasi yang menguji kemampuan manajemen waktu, ketahanan, dan kedewasaan mahasiswa dalam menghadapi tekanan akademik. Pada akhirnya, dari fase inilah banyak mahasiswa belajar memahami ritme kuliah yang sesungguhnya: bahwa dunia perkuliahan tidak semakin ringan, tetapi kitalah yang harus menjadi lebih siap.
Editor: Aulia Qolbu Ghoefira
