
Purwokerto — Data yang dipublikasikan oleh jurnal Kalla Institute menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat yang sangat rendah. Berdasarkan temuan tersebut, persentase minat literasi nasional diperkirakan hanya sekitar 0,001%, atau setara dengan satu dari seribu orang yang benar-benar memiliki kebiasaan membaca secara aktif.
Riset tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi budaya literasi di berbagai wilayah Indonesia. Hasilnya memperlihatkan bahwa rendahnya minat membaca dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti keterbatasan akses buku dan perpustakaan, ketimpangan kualitas pendidikan, serta perubahan pola konsumsi informasi di era digital. Dominasi media sosial diduga membuat masyarakat lebih sering mengonsumsi informasi singkat dibandingkan membaca teks panjang yang membutuhkan analisis lebih mendalam.
Selain itu, para pendidik mencatat bahwa kebiasaan membaca di kalangan pelajar belum terbentuk secara kuat. Banyak siswa belum terbiasa mengolah informasi secara kritis, memahami ide pokok teks, maupun menyimpulkan gagasan secara mandiri. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan materi ajar, bimbingan membaca, serta pembiasaan literasi di lingkungan sekolah dan rumah.
Rendahnya minat membaca dinilai dapat menjadi hambatan besar bagi kualitas pendidikan nasional. Tanpa intervensi yang tepat, kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan memilah kebenaran data dapat melemah di tengah arus informasi digital yang semakin cepat. Para peneliti mendorong pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk membangun ekosistem literasi yang lebih kuat melalui peningkatan fasilitas bacaan, perluasan akses perpustakaan, serta pembiasaan membaca sejak usia dini.
Editor: Lintang Rizky Putri
