Program Makan Bergizi Gratis atau MBG dibuat untuk meningkatkan kesehatan anak-anak melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah. Di atas kertas, gagasan ini terdengar sangat ideal. Anak-anak menerima asupan nutrisi seimbang, fokus belajar meningkat, orang tua terbantu karena pengeluaran makan siang berkurang, dan sekolah menjadi ruang yang lebih inklusif. Namun, apa yang tampak baik sebagai konsep ternyata jauh berbeda ketika sampai pada pelaksanaan di lapangan.
Di salah satu SMP di Kabupaten Cilacap, seorang guru mengungkapkan bahwa tidak semua siswa mampu menghabiskan makanan yang diberikan melalui MBG. “Beberapa siswa picky eater, membuat makanan terkadang terbuang sia-sia,” ujarnya.
Sebagian siswa memilih tidak memakan makanan karena rasa yang kurang enak dan penyajian yang tidak menarik. Kondisi ini menunjukkan ironi. Program yang seharusnya memberi manfaat justru berakhir menjadi tumpukan sisa makanan. Fenomena ini sekaligus memperkuat persoalan food wasting yang semakin serius, terutama ketika bahan pangan yang dipakai berasal dari anggaran besar dan uang rakyat.
Selain itu, sejumlah kasus keracunan massal turut memperkeruh pelaksanaan MBG. Salah satu kejadian yang cukup mendapat perhatian publik terjadi di Cisarua, Jawa Barat, ketika lebih dari seratus siswa mengalami gejala mual, pusing, dan muntah setelah menyantap makanan dari program tersebut. Peristiwa ini membuat banyak pihak mempertanyakan kesiapan teknis, standar sanitasi, dan pengawasan kualitas makanan.
Persoalan semakin rumit karena penanganan gizi dalam program ini sebagian besar diserahkan kepada tenaga nonprofesional yang tidak memiliki kompetensi khusus dalam pengelolaan makanan berskala besar. Dalam berbagai diskusi gizi publik, ahli gizi profesional menegaskan bahwa pengolahan makanan bergizi harus mengikuti standar ketat mengenai keamanan pangan, komposisi gizi, dan pengaturan penyimpanan bahan. Jika kompetensi ini diabaikan, risiko kontaminasi dan keracunan makanan jauh lebih tinggi, sebagaimana tercermin dari beberapa insiden terakhir.

Tidak ada yang salah dengan niat memberi makanan bergizi kepada anak-anak. Semua pihak sepakat bahwa gizi adalah fondasi penting pendidikan dan masa depan bangsa. Namun, niat baik bukan alasan untuk menutup mata terhadap pelaksanaan yang ceroboh. Program sebesar MBG seharusnya dijalankan secara profesional dan transparan, melibatkan ahli gizi bersertifikat, memastikan pengawasan ketat, serta memperhatikan rasa dan estetika makanan agar layak dikonsumsi dan tidak terbuang percuma.
Jika pemerintah ingin program ini benar-benar berhasil, evaluasi menyeluruh harus dilakukan segera. Anak-anak berhak memperoleh makanan sehat yang aman dan layak, bukan menu setengah matang yang justru membahayakan. Makan bergizi gratis adalah cita-cita mulia, tetapi akan berubah menjadi ironi apabila dieksekusi tanpa kesiapan dan tanggung jawab.
Editor: Azmi Revania Amanda
