
Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat berkomunikasi. Istilah baru dari media sosial kini muncul setiap waktu dan cepat menyebar sejak penggunaan platform daring meningkat. Fenomena ini terlihat terutama pada remaja dan mahasiswa di Indonesia, yang sering memadukan bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan sehari-hari, terutama di wilayah urban. Menurut Ivan Lanin, kemunculan kata baru dipicu oleh maraknya konten video dan kebiasaan pengguna internet (Lanin, 2023).
Pengamat linguistik mencatat bahwa kosakata dan ungkapan dari media sosial kini meresap ke dalam percakapan sehari-hari. “Banyak istilah slang dan ungkapan khas media sosial yang akhirnya diadopsi dalam komunikasi lisan sehari-hari, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa,” ujar R. Handayani dalam penelitiannya (Handayani, 2023)[2]. Temuan tersebut mengindikasikan media sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk kebiasaan berbahasa generasi muda, hingga memunculkan kekhawatiran akan potensi degradasi bahasa baku (Handayani, 2023). Meski begitu, beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan bahasa di dunia digital juga dapat mendorong kreativitas linguistik dan lahirnya dialek “digital” baru yang merefleksikan dinamika budaya zaman ini.
Di sisi lain, ilmu linguistik memainkan peran penting dalam perkembangan teknologi modern, khususnya Natural Language Processing. Teknologi seperti chatbot dan penerjemah otomatis bekerja dengan mengolah data bahasa dalam jumlah besar. Kepala Pusat Riset Bahasa BRIN, Ade Mulyanah, menyatakan bahwa data linguistik digital kini menjadi landasan berbagai riset kecerdasan buatan (BRIN, 2025). Peluncuran platform korpus CILLCO menunjukkan upaya Indonesia memperkuat riset bahasa berbasis digital.
Secara global, perubahan bahasa di era digital juga menimbulkan kekhawatiran. UNESCO melaporkan hampir setengah dari 7.000 bahasa di dunia terancam punah akibat pergeseran pola komunikasi (UNESCO, 2025). Pada forum G20 di Durban pada Oktober 2025, UNESCO mengimbau negara-negara memperkuat pelestarian bahasa agar teknologi digital tetap inklusif bagi seluruh komunitas bahasa.
Editor: Risma Tri Nurhana
