Fenomena Dana Usaha (Danus) telah menjadi tradisi turun-temurun yang tak terpisahkan dari kehidupan kampus, terutama kepanitiaan. Mulai dari seminar nasional hingga ulang tahun jurusan, sebagian besar kegiatan kemahasiswaan ditopang oleh keringat dan kreativitas para mahasiswa yang mendadak berubah menjadi pedagang: berjualan risol, donat, stiker, hingga membuka jasa google review.
Fenomena ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, danusan dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan kreativitas mahasiswa. Namun di sisi lain, hal ini juga memperlihatkan bahwa masih ada ruang untuk memperbaiki dukungan terhadap kegiatan nonakademik. Ketergantungan organisasi mahasiswa pada danusan bisa menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan pihak kampus masih dapat ditingkatkan agar kegiatan dapat berjalan lebih optimal.
Meski begitu, danusan sering menjadi solusi paling cepat bagi mahasiswa. Prosedur pendanaan yang panjang atau terbatas membuat mereka memilih cara yang lebih pasti: turun langsung berjualan. Dalam prosesnya, danus tidak hanya soal mencari uang, tetapi juga membangun solidaritas antarpanitia.
Namun budaya ini juga membawa konsekuensi. Beban akademik yang padat sering berbenturan dengan kewajiban danus yang menyita waktu. Akibatnya, mahasiswa bisa kehilangan fokus pada tujuan utama kepanitiaan: belajar mengelola program dan bekerja secara profesional. Karena itu, perlu dicari model pendanaan yang lebih sehat dan tidak membebani mahasiswa. Kampus dan organisasi dapat menjajaki peluang sponsorship, kolaborasi eksternal, atau unit usaha bersama. Dengan begitu, danusan tetap menjadi ruang belajar, tetapi tidak menjadi satu-satunya tumpuan kegiatan.
