Sastra Tohari: Fiksi Moral Melawan Feodalisme

Gambar Dokumentasi Pribadi Tafana Khairunisa

Purwokerto– Ahmad Tohari, Maestro sastra Indonesia, menegaskan peran fiksi bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kehidupan yang merekam kenyataan sosial dan dinamika kebudayaan suatu bangsa. Filosofi keberpihakan inilah yang menjadi motor di balik karya-karyanya.

Tohari meyakini bahwa setiap karya lahir dari pengalaman nyata, bukan dari ruang imajinasi yang kosong. Ia menyatakan tugas moralnya di depan publik: “Saya selalu menulis tentang masyarakat miskin. Karena orang miskin kesayangan Nabi. Mereka memanggul alamat Tuhan.” Pandangan ini memosisikan sastra sebagai penjaga moral dan etika.

Meskipun mengakui sastra tidak memiliki kekuatan politik, Tohari menemukan kebebasan mutlak di dalam fiksi untuk mengkritik struktur sosial. Ia berpendapat bahwa sastra harus berani menguji kejujuran pembaca dan melawan feodalisme yang masih mengakar di masyarakat. “Saya senang kalau fiksi saya membuat orang marah,” ungkapnya, menunjukkan bahwa sastra harus mengguncang kesadaran agar kebudayaan tidak stagnan.

Sebagai bekal keterampilan bagi generasi muda, Tohari berpesan agar tidak takut menghadapi writer’s block dan selalu membuat catatan harian sebagai modal agar imajinasi tak berhenti. Tohari meyakini, selama ada pena yang berpihak pada kaum kecil, suara mereka akan tetap abadi. “Di sanalah, sastra menemukan keabadiannya,” pungkasnya.

Editor:

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *