Real atau AI? Pengguna TikTok Kian Sulit Membedakan Konten Asli dan Buatan AI

Sumber: (Dokumentasi Pribadi)

Purwokerto—Dalam beberapa minggu terakhir, banyak pengguna TikTok mengalami kebingungan membedakan konten asli dan buatan AI. Video yang menampilkan gerak tubuh manusia, ekspresi wajah, hingga fenomena tidak biasa seperti hewan buas tiba-tiba muncul di pemukiman warga atau ikan paus terlihat di banjir sekitar rumah membuat penonton awalnya mudah terkecoh. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran terkait misinformasi dan literasi digital di platform media sosial.

Salah satu pengguna TikTok, yang akrab disapa Valen, mengaku sempat percaya pada salah satu video yang menampilkan musibah. “Gerakan dan suaranya sangat mirip dengan manusia. Awalnya aku yakin itu nyata, dan aku merasa kasihan. Tapi setelah diperhatikan lebih teliti, ternyata itu konten buatan AI,” ujarnya.

Seiring waktu, Valen mulai menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dalam video yang dibuat AI. Hal-hal kecil dalam gerakan, ekspresi, atau kejadian dalam video membuatnya mulai meragukan keaslian konten. Ia menjelaskan, biasanya tanda pertama yang membuatnya curiga adalah:

“Aku mulai curiga saat melihat beberapa hal yang enggak sinkron. Misalnya gerakan bibirnya kadang terlalu cepat, ekspresi wajah tidak sesuai dengan kata-kata, atau kejadian dalam video yang tidak wajar. Setelah itu, aku membaca beberapa komentar untuk melihat apakah orang lain juga memperhatikan hal yang sama atau tidak,” ujarnya.

Fenomena ini juga terlihat dari komentar pengguna lain. Beberapa komentar yang muncul di kolom video antara lain: “AI buat orang tidak bisa bedakan antara lengkuas dan rendang”, “Asli? Semenjak ada AI aku jadi trust issues”, “Kak ini AI apa bukan?”, “Itu AI gk sih?”, dan “Sulit banget bedain mana AI mana asli”. Dari puluhan komentar serupa, terlihat bahwa kebingungan ini dirasakan banyak pengguna, bukan hanya pengalaman Valen.

Menurut Valen, konsep video dan kualitas suara yang dibuat sangat meyakinkan banyak pengguna. Akibatnya, cara dia menilai konten di platform tersebut pun berubah. “Sekarang aku enggak langsung percaya. Aku selalu mencermati gerakan, intonasi, ekspresi, maupun konteks kejadian dalam video, serta memeriksa beberapa komentar sebagai verifikasi tambahan,” jelasnya.

Untuk menghindari kesalahan menafsirkan konten, Valen menyarankan agar pengguna tidak hanya membaca komentar, tetapi juga mencari sumber lain yang kredibel dan memperhatikan pola narasi serta konteks dalam video. “Kadang ada orang lain yang lebih teliti, tapi tetap penting untuk mengecek sendiri,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi digital di era media sosial. Pengguna diharapkan tidak hanya menilai konten dari tampilan visual, tetapi juga memeriksa konteks, pola narasi, dan interaksi di kolom komentar agar tidak mudah terjebak hoaks atau konten yang direkayasa AI.

Editor: Rika Amelia

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *