(Sumber: Pinterest)
Purwokerto – Lagu “Sampai Jadi Debu” karya Banda Neira, yang dirilis pada 29 Januari 2016 melalui album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti, dikenal bukan hanya karena musiknya, tetapi juga karena liriknya yang dianggap sebagai karya sastra. Lagu ini menunjukkan bagaimana kata-kata sederhana bisa memiliki makna mendalam dan bekerja layaknya puisi modern.
Baris lirik seperti “Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu” mengandung metafora tentang cinta, kefanaan, dan waktu. Pilihan diksi yang lembut namun penuh makna membuat lagu ini sering dibaca ulang, dikutip, dan dipahami sebagai teks sastra. Pendengar merenungkan setiap bait, sehingga lirik ini tidak hanya dinikmati lewat telinga, tetapi juga melalui pemahaman dan tafsir batin.
Fenomena kebangkitan popularitas lagu ini banyak terjadi di platform digital seperti YouTube, Spotify, dan TikTok, tempat pendengar muda membuat cover, video interpretasi, atau membagikan kutipan lirik. Proses ini menunjukkan bagaimana lagu menjadi sarana bagi orang untuk mengapresiasi bahasa, makna, dan perasaan yang terkandung di dalamnya. Kebangkitan ini berlangsung beberapa tahun terakhir dan terus mempertahankan relevansi lirik di era digital.
Dengan melodi yang lembut dan lirik yang sarat akan makna, lagu ini membuktikan bahwa musik dapat menjadi jembatan bagi sastra. “Sampai Jadi Debu” menunjukkan bahwa kata-kata yang indah dan penuh refleksi bisa hidup di luar buku, mengalir melalui suara, dan tetap menyentuh hati pendengar lintas generasi. Karya ini bukan sekadar lagu, melainkan puisi modern yang dinyanyikan, dan mengajak siapa pun untuk turut merasakan, menafsir, serta merenungkan maknanya.
Editor: Mutiara Happy Nurhanifah
