Kisah Kancil dalam Bentuk Wayang: Warisan Langka Museum Sonobudoyo yang Mengajarkan Kearifan Lokal

(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Yogyakarta— Museum Sonobudoyo di Yogyakarta menyimpan salah satu koleksi langkanya berupa wayang kancil. Selain menarik secara visual, koleksi ini sarat pesan moral dan kearifan lokal, menjadi media edukatif yang efektif untuk memperkenalkan nilai kepintaran, keberanian, dan kejujuran kepada pengunjung.

Dzikirin, pemandu Museum Sonobudoyo, menjelaskan bahwa wayang Kancil dipilih karena kisahnya merupakan fabel Nusantara yang kaya akan pelajaran hidup. “Koleksi wayang kancil ini kami tampilkan untuk menunjukkan bahwa dongeng Nusantara juga berkembang dalam bentuk seni rupa. Cerita kancil yang populer membuat pengunjung lebih mudah mengenali dan memahami konteks budayanya,” jelasnya.

Berdasarkan kajian seni pertunjukan, wayang kancil mulai digarap kembali pada tahun 1980-an dan dipopulerkan oleh para seniman tatah-sungging di Yogyakarta. Wayang ini menggambarkan tokoh hewan cerdik yang kerap muncul dalam berbagai dongeng Nusantara, dengan cerita yang memuat pesan mengenai kecerdikan, sikap kritis, serta konsekuensi moral yang melekat pada karakter kancil.

Dalam konteks edukasi budaya, pajangan wayang kancil menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan kembali cerita rakyat kepada pengunjung. Melalui bentuk fisik wayang, baik anak-anak maupun orang dewasa dapat melihat bagaimana kisah yang dahulu mereka dengar dihadirkan kembali dalam karya seni berukir yang detail.

Dengan memamerkan wayang kancil sebagai warisan langka, Museum Sonobudoyo menegaskan perannya sebagai penjaga tradisi. Pajangan ini tidak sekadar arsip budaya, tetapi pengingat bahwa nilai-nilai dari cerita Nusantara tetap hidup dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Editor: Qoriatun Munawaroh

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *