Banyumas – Novel klasik Jepang No Longer Human karya Osamu Dazai kembali menarik perhatian pembaca muda di Indonesia seiring meningkatnya diskusi tentang keterasingan, tekanan sosial, dan pencarian jati diri. Meski terbit pada tahun 1948, karya ini dinilai sangat relevan dengan dinamika psikologis remaja masa kini.
Novel No Longer Human terus menarik perhatian, terutama di kalangan pembaca yang menyukai sastra klasik Jepang. Pembahasan mengenai tema keterasingan dan depresi dalam karya ini juga kerap muncul dalam obrolan di media sosial serta di berbagai komunitas yang menaruh minat pada sastra modernis Jepang.
Kritikus sastra Jepang Donald Keene pernah menilai karya Dazai sebagai “pengakuan diri yang paling jujur dan menyakitkan dalam sastra modern Jepang”. Menurutnya, No Longer Human menawarkan gambaran mendalam tentang ketakutan, rasa terasing, dan luka batin yang sulit disembunyikan.
Akademisi lain, Phyllis I. Lyons, menekankan bahwa narasi Yozo Oba merupakan refleksi dari keretakan batin manusia modern yang hidup dalam tekanan sosial. Kajiannya banyak digunakan dalam penelitian sastra Jepang di berbagai perguruan tinggi.
Di Indonesia, pengamat literasi Najelaa Shihab melihat meningkatnya minat terhadap bacaan yang mengangkat isu identitas dan kesehatan mental sebagai tanda bahwa pembaca muda mulai memilih buku yang memberi ruang refleksi diri. Ia menilai bahwa tren ini menunjukkan perkembangan positif dalam budaya literasi, karena remaja kini lebih tertarik pada bacaan yang mengangkat dinamika psikologis dan eksplorasi diri.
Meski demikian, pendidik dan pemerhati pendidikan Indra Charismiadji mengingatkan bahwa tema depresi dan keterasingan dalam novel ini memerlukan pendampingan bagi pembaca remaja. Ia menilai bahwa meskipun karya seperti No Longer Human dapat membuka ruang refleksi diri, pendidik dan orang tua tetap perlu memberikan konteks agar pembaca muda memahami pesan dan kompleksitas emosinya dengan tepat.
Dengan meningkatnya diskusi di media sosial dan komunitas literasi, No Longer Human diperkirakan akan tetap menjadi salah satu karya sastra dunia yang paling banyak dibaca oleh pembaca muda Indonesia dalam waktu dekat.
Editor: Zaskia Ayu Nissa
