
Purwokerto – Penggunaan bahasa gaul di media sosial semakin menunjukkan dampaknya terhadap kemampuan siswa dalam menulis kalimat formal. Berbagai temuan menunjukkan bahwa gaya bahasa digital yang serba ringkas, penuh singkatan, dan bercampur ragam bahasa tidak baku telah memengaruhi cara siswa menyusun struktur kalimat dalam konteks akademik.
Hasil kajian yang dipublikasikan dalam salah satu jurnal pendidikan Indonesia menyebutkan bahwa paparan intens terhadap bahasa slang di media sosial berhubungan dengan melemahnya kemampuan siswa membangun kalimat yang sesuai kaidah bahasa Indonesia. Dalam tugas menulis, banyak siswa menunjukkan kecenderungan membuat kalimat tidak lengkap, hilangnya unsur subjek atau predikat, serta penggunaan bentuk singkat seperti yang lazim digunakan pada platform digital.
Selain itu, gaya komunikasi media sosial yang bersifat spontan membuat siswa terbiasa menggunakan kalimat pendek dan langsung, sehingga penulisan formal seperti esai atau laporan menjadi kurang terstruktur. Singkatan, kosakata serapan bahasa Inggris, serta frasa khas anak muda semakin sering muncul dalam teks akademik.
Fenomena ini mendorong sejumlah sekolah untuk memperkuat kembali program pembelajaran bahasa Indonesia, terutama pada aspek struktur kalimat, ragam bahasa, dan penyuntingan teks. Langkah ini dilakukan untuk memastikan siswa mampu membedakan antara bahasa santai yang digunakan dalam interaksi digital dan bahasa formal yang dibutuhkan dalam tugas sekolah.
Dengan meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja, dominasi bahasa gaul diperkirakan akan terus berkembang. Penguatan literasi bahasa menjadi kunci agar siswa tetap dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa mengabaikan kemampuan menulis sesuai kaidah.
