PURWOKERTO — Di era perkuliahan yang menuntut kelas semakin interaktif, keberanian bertanya
seharusnya menjadi bagian dari aktivitas belajar sehari-hari. Namun, kenyataannya banyak mahasiswa
yang masih memilih diam meskipun mereka diberi ruang untuk menyampaikan pendapat maupun
kebingungan. Rasa takut salah, gugup, dan kekhawatiran dinilai kurang tepat masih menjadi alasan
utama.
Beberapa mahasiswa mengatakan bahwa mereka sering merasa harus menyusun prolog yang rapi
sebelum bertanya. Tekanan untuk terlihat cerdas dan kekhawatiran terhadap penilaian teman sebaya
membuat sebagian dari mereka menahan diri, meskipun materi belum sepenuhnya dipahami.
Sebagai pandangan langsung dari mahasiswa, Adel yang diwawancarai terkait kondisi ini mengaku
bahwa rasa ragu masih sering ia alami. “Sering. Saya takut salah berkata, dan terkadang saya juga
ragu saat ingin bertanya atau mengangkat tangan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa hambatan
mental dan tekanan sosial masih menjadi penghalang yang cukup kuat bagi mahasiswa untuk
berpartisipasi aktif.
Melihat kondisi tersebut, dosen memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang lebih
aman. Banyak mahasiswa sebenarnya ingin bertanya, tetapi mereka belum merasa cukup nyaman
karena takut salah atau takut dinilai. Pembelajaran yang lebih asyik, ramah, dan tidak menghakimi
dapat membantu mahasiswa merasa lebih bebas dalam menyampaikan pertanyaan maupun
kebingungan.
Selain dukungan dari dosen, mahasiswa juga perlu membangun rasa percaya diri. Keberanian untuk
bertanya dapat tumbuh jika mahasiswa mulai terbiasa menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari
proses belajar. Dengan perlahan mengurangi rasa takut dinilai dan lebih fokus pada pemahaman
materi, mahasiswa dapat lebih siap untuk berbicara di hadapan kelas.
Pada akhirnya, keberanian bertanya adalah hasil kerja sama antara suasana kelas yang mendukung dan
kesiapan mental mahasiswa. Jika keduanya berjalan beriringan, proses pembelajaran dapat menjadi
lebih hidup dan bermakna.
Editor: Eti Kusmiati
