Purwokerto — Pementasan drama Matahari di Sebuah Jalan Kecil karya Arifin C. Noor kembali dihadirkan dalam rangkaian pentas bertajuk “Jagat Rasa, Spektrum Waktu”, yang menampilkan tiga pementasan dari kelas A, B, dan C. Pada hari pertama pementasan, kelas A tampil pada 10 Desember 2025 di Aula Bambang Lelono, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Pementasan ini menjadi sorotan karena penggarapan ceritanya yang mengangkat realitas kesenjangan ekonomi dan problem sosial masyarakat. Pementasan ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Penyutradaraan.
Drama ini dipentaskan oleh mahasiswa kelas A dengan menghadirkan berbagai karakter yang merepresentasikan lapisan masyarakat kecil. Salah satu aktor memerankan tokoh Timi (Siti Mirasih), karakter pendamping tokoh utama, Lukman. Timi digambarkan sebagai sosok protagonis dengan nuansa komedi. Meskipun demikian, tokoh ini memiliki sifat plin-plan dan kurang memiliki pendirian dalam mengambil keputusan.
Dalam proses persiapannya, aktor yang memerankan Timi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar muncul pada tahap awal, terutama dalam menghafal naskah dan menyesuaikan karakter. Perbedaan kepribadian antara tokoh Timi dan dirinya di kehidupan nyata menuntut pendalaman karakter yang cukup intens. Oleh karena itu, diperlukan waktu agar aktor mampu memisahkan identitas personal dengan karakter yang dimainkan di atas panggung.

Secara keseluruhan, persiapan pementasan kelas A dilakukan secara matang melalui berbagai tahapan latihan. Tahapan tersebut meliputi latihan vokal dan fisik, pendalaman karakter, penulisan jurnal harian dari sudut pandang tokoh, pembuatan sejarah tubuh dan penokohan, hingga latihan orientasi panggung serta pengadeganan dialog. Menurut narasumber, kesiapan mental dan kondisi fisik menjadi hal utama yang harus dijaga oleh aktor, mengingat vokal dan tubuh merupakan modal utama dalam pementasan teater.
Selama masa latihan, tidak ditemukan kendala berarti yang menghambat proses pementasan. Dukungan dari sutradara, asisten sutradara, sesama aktor, serta tim artistik menciptakan kerja sama yang solid hingga hari pementasan. Kolaborasi tersebut menjadi kunci keberhasilan penampilan kelas A dalam menyampaikan pesan cerita kepada penonton.

Drama Matahari di Sebuah Jalan Kecil menampilkan sejumlah tokoh lain, di antaranya Lukman (pemuda/maling), Simbok Sri, Yanti, Toro, Tejo, Darmini, Budhe Marni, Mbakyu Ningrum, dan Karman. Seluruh tokoh dirangkai untuk memperkuat konflik sosial yang menjadi inti cerita. Kehadiran beragam karakter tersebut memperlihatkan dinamika kehidupan masyarakat kecil.
Adapun tema utama yang diangkat dalam pementasan ini adalah kesenjangan ekonomi. Tema tersebut didukung oleh isu-isu lain seperti kejujuran dalam kehidupan sosial, kenaikan harga barang dan ketimpangan ekonomi, serta persoalan politik, termasuk korupsi dan kesenjangan upah buruh pabrik. Referensi pementasan diambil dari dokumentasi dramaturgi teater mahasiswa Universitas Airlangga, yang kemudian dikembangkan melalui pengamatan terhadap kehidupan penjual tahu keliling dan buruh pabrik tahu perempuan.

Melalui pementasan ini, kelas A tidak hanya menghadirkan hiburan bagi penonton. Pementasan ini juga digelar sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran Mata Kuliah Penyutradaraan. Selain itu, pertunjukan ini mengajak penonton untuk merefleksikan realitas sosial yang masih dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Editor: Aulia Qolbu Ghoefira
