Tren iklan bergaya User-Generated Content (UGC) semakin mendominasi media sosial dan memicu perdebatan baru terkait transparansi promosi digital. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi pemasaran digital mengalami pergeseran besar ke arah konten yang lebih autentik. Salah satu bentuk yang paling menonjol adalah iklan bergaya User-Generated Content (UGC), yaitu promosi yang dikemas menyerupai konten buatan pengguna biasa, bukan iklan profesional.
Berbeda dengan iklan konvensional yang menampilkan pesan promosi secara jelas, UGC advertising justru mengandalkan cerita sehari-hari, pengalaman personal, atau situasi relatable. Produk biasanya muncul secara natural dalam alur cerita, sehingga audiens sering kali baru menyadari unsur promosinya di akhir konten.
Tren ini berkembang pesat seiring perubahan perilaku konsumsi media di platform seperti TikTok dan Instagram, yang algoritmanya lebih memprioritaskan konten terasa autentik dibanding produksi iklan yang terlalu formal. Akibatnya, brand mulai mengadopsi pendekatan yang lebih halus (soft selling) untuk menjaga perhatian audiens sekaligus meningkatkan keterlibatan.
Selain faktor algoritma, meningkatnya “kejenuhan iklan” juga mendorong munculnya strategi ini. Banyak pengguna internet kini cenderung melewati iklan yang terlihat jelas sebagai promosi. Dengan format UGC, pesan pemasaran dapat disampaikan tanpa memicu resistensi, karena tampil sebagai cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini kemudian memunculkan diskusi baru tentang batas antara konten personal dan promosi, terutama terkait transparansi kepada audiens. Meski efektif secara pemasaran, gaya iklan yang terlalu menyatu dengan konten organik membuat sebagian pihak mempertanyakan perlunya penanda iklan yang lebih jelas. Fenomena ini sekaligus menunjukkan perubahan lanskap periklanan digital yang semakin mengandalkan kedekatan emosional dibanding pendekatan promosi langsung.
Strategi iklan bergaya UGC bekerja dengan meniru pola konten organik yang biasa dibuat pengguna media sosial. Brand atau agensi biasanya menggandeng kreator untuk memproduksi video atau unggahan yang berfokus pada cerita, pengalaman, atau situasi sehari-hari, bukan pada promosi produk secara langsung.
Alur konten umumnya dimulai dengan masalah atau cerita yang relatable, lalu produk muncul sebagai bagian dari solusi tanpa penyampaian pesan iklan yang eksplisit. Pendekatan ini membuat audiens menonton konten hingga selesai karena terasa seperti hiburan atau pengalaman personal, bukan promosi.
Selain itu, visual yang digunakan sengaja dibuat sederhana, seperti gaya rekaman ponsel atau vlog, untuk mempertahankan kesan autentik. Strategi ini memanfaatkan kedekatan emosional dan rasa percaya audiens terhadap konten yang terlihat “jujur” dan tidak terlalu dipoles.
Meningkatnya penggunaan UGC advertising membawa beberapa dampak pada cara audiens menerima informasi di media sosial.
Pertama, tingkat keterlibatan (engagement) cenderung lebih tinggi karena konten terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Audiens juga lebih mudah membangun koneksi emosional dengan cerita dibandingkan pesan promosi langsung.
Namun di sisi lain, format ini dapat membuat audiens sulit membedakan antara konten personal dan iklan. Hal tersebut berpotensi mempengaruhi cara mereka mengambil keputusan konsumsi, karena rekomendasi terasa seperti pengalaman nyata, bukan strategi pemasaran.
Selain itu, tren ini turut membentuk ekspektasi baru terhadap konten digital, di mana audiens semakin terbiasa dengan promosi yang terselubung dalam narasi hiburan.
Seiring semakin populernya iklan bergaya UGC, muncul diskusi mengenai transparansi dalam komunikasi pemasaran digital. Salah satu pertanyaan utama adalah apakah audiens perlu diberi penanda yang jelas ketika sebuah konten mengandung unsur promosi.
Beberapa pihak menilai bahwa penyamaran iklan sebagai konten personal dapat berisiko menyesatkan, terutama jika tidak ada disclosure atau penjelasan kerja sama. Di sisi lain, pelaku industri berpendapat bahwa pendekatan ini merupakan bentuk adaptasi kreatif terhadap perubahan perilaku audiens.
Perdebatan ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara efektivitas pemasaran dan hak audiens untuk mengetahui konteks informasi yang mereka konsumsi, sekaligus membuka ruang diskusi tentang regulasi dan standar etika di era media sosial. Dengan terus berkembangnya tren ini, transparansi menjadi aspek yang semakin krusial dalam menjaga kepercayaan publik terhadap konten digital.
Editor: Syaif Ilhamka Al Hars
