PURWOKERTO — Bulan Ramadan selalu menjadi momen spesial bagi umat Muslim. Setelah belasan jam menahan lapar dan dahaga, kumandang azan magrib menjadi saat yang paling dinanti-nanti. Di waktu menjelang berbuka inilah, antusiasme masyarakat kerap terekspresikan melalui tradisi berburu makanan atau yang belakangan populer dengan sebutan war takjil.
Salah satu titik keramaian war takjil di Purwokerto dapat dijumpai di kawasan SMA Negeri 2 Purwokerto. Berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, antusias memadati deretan pedagang kaki lima. Di kawasan ini, masyarakat tidak hanya disuguhkan kuliner khas Ramadan seperti kolak pisang dan kraca, tetapi juga aneka jajanan kekinian yang tengah digandrungi, seperti leker, gorengan, dimsum mentai, risol mayo, hingga mochi. Pilihan minuman segarnya pun sangat beragam, mulai dari es buah, es degan, es pisang ijo, hingga es kuwut. Menariknya, di tengah gempuran jajanan modern, kuliner tradisional seperti kluban dan pecel yang mulai jarang ditemui pada hari biasa juga turut dijajakan di sini.
Seluruh aneka kuliner tersebut dibanderol dengan harga yang sangat ramah di kantong, yakni mulai dari lima ribu rupiah. Harganya yang ekonomis serta pilihannya yang beragam menjadi daya tarik tersendiri bagi semua kalangan. Menurut pantauan, takjil manis seperti leker, mochi, dan aneka es konsisten menjadi incaran utama para pembeli.
“Paling ramai itu sekitar pukul lima sore, Mbak. Sampai-sampai jalanan macet karena pengunjung berbaur dengan lalu lintas kendaraan umum,” ujar Titin, salah satu pedagang di sekitar sekolah tersebut. Kepadatan dan hiruk-pikuk lalu lintas tersebut rupanya tidak menyurutkan semangat warga, melainkan justru semakin menghidupkan suasana khas menjelang buka puasa. Hal ini turut dirasakan oleh Lia, salah satu pengunjung yang ikut berburu takjil. “Bagi saya, war takjil ini sudah menjadi tradisi tahunan. Kegiatan ini membuat nuansa Ramadan makin terasa kental. Sekaligus, saya bisa bernostalgia ke masa-masa sekolah dulu, mengingat pusat kuliner ini berada persis di depan almamater saya,” sahut Lia sambil tersenyum.
Bagi sebagian orang, Ramadan memang bukan sekadar waktu yang tepat untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri, melainkan juga momen yang selalu memantik rindu akan kebersamaan dan tradisi sosial di tengah masyarakat. Melalui kegiatan sederhana seperti berburu takjil lalu berbuka puasa, kita diajak untuk sejenak mensyukuri nikmat serta kebahagiaan yang telah diperoleh pada hari itu.
