Sumber: Generate AI
Banyumas – Bulan Ramadhan menghadirkan perubahan ritme kehidupan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Perkuliahan tetap berlangsung seperti biasa, namun mahasiswa menjalaninya sembari berpuasa dan meningkatkan aktivitas ibadah. Kondisi ini menuntut adanya penyesuaian pola belajar agar kewajiban akademik tetap berjalan optimal tanpa mengurangi makna spiritual Ramadhan.
Mahasiswa menghadapi tantangan berupa perubahan pola tidur, energi yang lebih terbatas, serta jadwal tugas yang tidak berkurang. Situasi ini sering kali memengaruhi konsentrasi dalam mengikuti kuliah maupun diskusi kelas. Namun, tantangan tersebut justru dapat menjadi sarana pembelajaran dalam mengelola waktu dan menjaga komitmen terhadap tanggung jawab akademik.
Sebagian mahasiswa menyesuaikan kondisi tersebut dengan menyusun ulang jadwal belajar, memanfaatkan waktu setelah sahur atau menjelang berbuka untuk menyelesaikan tugas, serta mengurangi aktivitas yang kurang produktif. Strategi ini menunjukkan bahwa produktivitas selama Ramadhan bukan mustahil, melainkan membutuhkan perencanaan yang lebih terstruktur.
Dari sisi institusi, kampus memiliki peran dalam menciptakan suasana yang mendukung. Penyesuaian jadwal kegiatan tertentu, penyediaan fasilitas ibadah yang memadai, serta pemahaman dosen terhadap kondisi mahasiswa menjadi bagian dari ekosistem akademik yang responsif. Kolaborasi antara mahasiswa dan pihak kampus menjadi kunci agar keseimbangan tetap terjaga.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga latihan kedisiplinan dan penguatan karakter. Mahasiswa yang mampu menjaga keseimbangan antara spiritualitas dan akademik menunjukkan kematangan dalam mengelola peran dan tanggung jawabnya. Dengan pendekatan yang tepat, Ramadhan justru dapat memperkaya pengalaman belajar di perguruan tinggi.
Editor: Silmi Nafi Kholishoh
