PURWOKERTO, 24 Februari 2026—Langit senja memperlihatkan semburat hangatnya, menyapa lembut insan-insan yang justru berpadu riuh. Menjelang magrib, deru motor sedang gencar-gencarnya. Melintas memadati jalan raya. Sebagian berburu kudapan untuk berbuka, sekilas menikmati aroma semerbak yang mengepul di tepi jalan. Sementara beberapa di antara yang lainnya mengambil langkah dengan tergesa, membelah barisan pemotor dengan perasaan yakin, lantas menuju masjid besar yang dikelilingi pepohonan dengan tempat salat berlantai marmer. Masjid Fatimatuzzahra.
Di serambi masjid, jamaah duduk bersisian, menunggu azan berkumandang, merasakan euforia Ramadan di antara rindu dan lelah. Selama sebulan penuh, masjid itu membuka pintu untuk semua yang ingin berbuka. Menyediakan 1.500 porsi setiap hari dengan diawali segelas air dan tiga biji kurma, lalu disusul dengan sekotak nasi yang tampak sederhana, tetapi menyimpan beratnya makna, berlimpahnya ketulusan, serta rasa syukur yang memancar pelan di antara bisikan doa.
Sekotak nasi itu bukan sekadar makanan. Ia adalah wujud kepedulian, jembatan kebersamaan, dan simbol doa yang diam-diam mengalir di setiap tangan yang menyiapkan, menata, hingga membagikan kotak demi kotak tanpa gaduh, seolah tidak ada kata lelah untuk menyediakan iftar bagi jamaah yang berpuasa.
Ramadan di serambi masjid mengajarkan bahwa setiap kotak nasi adalah simbol kehangatan, pengingat akan kemanusiaan yang sederhana, dan bukti bahwa dalam setiap tindakan kecil, selalu ada kesempatan untuk menebar kebaikan.
Editor: Tsabita Naila Shahwa
