
Gaza, Februari 2026 — Dua tahun lalu, jutaan orang di seluruh dunia menyerukan All Eyes on Rafah, mendesak komunitas internasional memperhatikan kota paling selatan Gaza itu. Dunia melihat, dunia bersuara. Namun Rafah tetap dihancurkan. Kini yang beredar adalah kalimat sebaliknya: Rafah Is Gone. Dan kali ini, dunia jauh lebih sepi.
Sebelum perang, Rafah adalah kota berpenduduk sekitar 200.000 jiwa, sekaligus satu-satunya pintu keluar Gaza ke dunia luar. Ketika Israel melancarkan serangan besar-besaran pasca 7 Oktober 2023, kota itu berubah menjadi titik pengungsian terakhir bagi warga yang terus didorong ke selatan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, pada pertengahan 2024, lebih dari 1,4 juta orang berdesakan di sana.
Invasi darat Israel ke Rafah dimulai pada Mei 2024. Serangan itu terus berlanjut meskipun gencatan senjata singkat pada awal 2025 runtuh pada Maret tahun yang sama. Menjelang Februari 2026, seluruh kota ditetapkan sebagai zona militer dan hampir sepenuhnya tertutup bagi warga sipil.
Skala kerusakannya terdokumentasi lewat data dari berbagai lembaga internasional. United Nations Satellite Centre (UNOSAT) mencatat lebih dari 28.600 bangunan di Rafah telah rata dengan tanah per Juli 2025, naik dari 15.800 hanya tiga bulan sebelumnya. Di seluruh Gaza, Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan sekitar 70 persen bangunan hancur atau rusak berat, mencakup rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur dasar. Korban jiwa di seluruh Gaza per Februari 2026 telah melampaui 73.000 orang menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Bagi warga yang ingin kembali, jalan tidak mudah. Seorang staf MSF yang merupakan warga asli Rafah bercerita bahwa ia terus berjalan mencari sisa rumahnya, tapi semuanya sudah rata. Penyeberangan Rafah sendiri baru dibuka secara terbatas pada Februari 2026 setelah hampir ditutup sepanjang perang. Mereka yang berhasil masuk pun hanya bisa dijemput keluarga di Khan Yunis, karena Rafah sendiri tidak lagi bisa dimasuki.
Di tingkat internasional, Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (HAM PBB) telah menyatakan kekhawatiran serius bahwa penghancuran sistematis dan penolakan bantuan kemanusiaan di Gaza berpotensi merupakan ethnic cleansing. Bank Dunia memperkirakan kerugian fisik akibat perang ini mencapai 55 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Namun tekanan internasional sejauh ini belum menghasilkan perubahan nyata di lapangan.
Rafah hari ini bukan lagi kota yang bisa dikunjungi, apalagi ditinggali. Entah sampai kapan.
Editor: Fitriana Oktavia
