PURWOKERTO– Cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” karya Ahmad Tohari menghadirkan potret getir tentang kemiskinan, iman, dan ironi sosial melalui kisah sederhana yang menyentak kesadaran pembaca.
Dengan latar masyarakat kecil yang religius, Tohari meramu cerita tentang seorang pengemis yang melantunkan Shalawat Badar sebagai “alat” untuk mengetuk belas kasihan. Secara garis besar, cerpen ini menyoroti sosok pengemis yang memanfaatkan simbol religius untuk bertahan hidup.
Shalawat yang sejatinya sarat makna spiritual berubah fungsi menjadi strategi ekonomi. Dari titik inilah konflik nilai muncul: antara kesucian doa dan realitas perut yang lapar.Shalawat Badar, yang biasanya dilantunkan dalam suasana khidmat, diposisikan dalam ruang jalanan yang keras. Perpindahan makna ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah agama tetap sakral ketika bersentuhan dengan kebutuhan paling dasar manusia? Namun, konflik dalam cerpen ini mungkin terasa sederhana dan tidak dramatis, ketegangan dibangun secara halus. Bagi yang terbiasa dengan plot cepat dan penuh kejutan, cerita ini bisa terasa datar. Meski demikian, justru kesederhanaan itu yang membuatnya realistis.
“Pengemis dan Shalawat Badar” merupakan cerpen yang kuat dalam kesederhanaan. Ahmad Tohari berhasil menghadirkan kritik sosial tanpa retorika berlebihan.Cerpen ini tetap relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Fenomena eksploitasi simbol agama untuk kepentingan ekonomi atau sosial masih mudah ditemukan. Tohari seakan mengingatkan bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan materi, tetapi juga bisa menggeser makna nilai yang di yakini.
Editor : Muhammad Iqbaal Mudzaki
