Kumpulan Cerpen Terbaik Karya Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Purbalingga

Berikut beberapa kumpulan cerpen terbaik karya siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri 2 Purbalingga:

Senyap Yang Berujung Bahagia

Karya Floren Bintang Prayunda

Sehari sebelum ulang tahun Nara, suasana pertemanan kami terasa berbeda. Aku, Luna, dan Salsa sengaja bersikap cuek kepadanya. Pesan Nara di grup hanya dibaca, bahkan ada yang tidak dibalas sama sekali. Di sekolah, Nara menghampiriku dengan wajah bingung.

“kalian kenapa sih? Aku salah apa?” tanyanya pelan. “Enggak apa-apa” jawabku singkat sambil berpura-pura sibuk. 

Padahal dibalik sikap dingin itu, kami sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Kami takut jika bersikap terlalu normal, Nara akan curiga. Meski begitu, melihat wajahnya murung membuat hatiku terasa tidak enak. Malamnya, Luna berpesan di grup kecil tanpa Nara.

“Besok jangan sampai ketahuan ya, tiket film sudah aman.”

 “Iya semoga Nara nggak keburu sakit hati” balas Salsa.

Keesokan harinya, tepat di hari ulang tahun Nara, aku mengajaknya menonton film dengan alasan melepas penat.

“Nonton? sama siapa?” tanya Nara dengan ragu. “Cuma aku sama kamu” jawabku, ia mengangguk, meski wajahnya masih terlihat canggung. 

Kami menonton film di bioskop, selama film berlangsung Nara mulai terlihat lebih santai, ia bahkan sempat tertawa kecil dibeberapa adegan. Setelah film selesai, aku mengajaknya ke area  dekat studio, lampu sekitar sedikit redup. Tiba-tiba, Luna dan Salsa muncul sambil membawa kue dengan lilin menyala. 

“Surprise! Selamat ulang tahun Nara!” teriak mereka bersamaan, Nara terkejut dan matanya berkaca-kaca. 

“Jadi….. kemarin kalian cuek karena ini?” tanyanya. 

“Iya maaf banget, kita nggak bermaksud bikin kamu sedih” kataku jujur. Nara tersenyum sambil menerima kue dan kado. 

“Aku sempat sedih, tapi ternyata ini kejutan terbaik” ucapnya.

 Hari itu berakhir dengan tawa dan foto bersama.

Cahaya Hati

Karya Syauqina 

Bulan malam begitu indah, cahayanya menerangi malam yang gelap. Seorang anak memandangi bulan itu dari arah jendela kamarnya. Seolah matanya telah terpikat dengan cahayanya. Isak hanyalah seorang pelajar biasa, yang setiap harinya dihantam oleh permasalahan hidup. Tak percaya bahwa ketenangan itu akan menjadi miliknya. Langkah kaki mulai terdengar dari luar kamarnya. Cepat-cepat ia duduk lalu berpura-pura merangkum materi. Jantungnya berdebar, seakan ada bahaya yang mendatanginya. Suara pintu terbuka, seorang wanita datang menghampirinya dan memaki-maki Isak karena tidak becus dalam belajarnya. Membanding-bandingkannya dengan temannya yang lebih pintar dan rajin. Ia merasa bahwa dirinya memang selalu tidak dihargai di mata ibunya. 

”Buat apa belajar kalau pada akhirnya tidak dihargai’’ kata Isak dalam hati penuh kecewa. 

Keesokan harinya Isak bersiap untuk ke sekolah, melewatkan sarapan paginya dan berangkat dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, dirinya dicegat oleh sekelompok pelajar yang meminta-minta uang pada Isak. 

“Kami dengar-dengar kamu anak orang kaya? Sini uang sakumu!” kata mereka sambil mengejek. 

Pada akhirnya Isak memberi semua uangnya dan pergi sambil berharap ia akan kebagian makan bergizi gratis. Di kelas suasananya sungguh berbeda, Isak merasa bahwa seluruh teman-teman menjauhinya. 

“Zubair… mengapa mereka menjauhiku?” tanya Isak pada sahabatnya yang ia kenal satu tahun terakhir.  

“Satu bulan setelah kematian ayahmu mereka tidak lagi menganggapmu sebagai teman, mereka mengira engkau sudah tidak punya apa-apa” jawab Zubair. 

Hati Isak benar-benar hancur dan sangat kecewa, karena selama ini mereka ternyata hanya mengharapkan hartanya. Isak tak habis pikir, entah dosa apa yang pernah ia lakukan selama hidupnya. Sampai Allah memberinya cobaan seperti ini. Padahal ia hanya ingin hidup damai tanpa ada pertikaian.

Bel istirahat telah berbunyi, semua anak keluar kelas kecuali Isak. Dirinya hanya termenung dibangku, meratapi kehidupannya yang begitu malang. Tiba-tiba ada seorang guru datang dan menasehati Isak untuk lebih rajin dalam meraih prestasinya. Guru itu berkata, jika akhir-akhir ini nilai Isak terus menurun. Jika terus seperti ini, dirinya bisa terancam untuk dikeluarkan dari sekolah. Belum lagi SPP Isak yang menunggak selama 2 bulan, Isak tak percaya ternyata ibu belum membayarnya. 

Isak hanya bisa mengangguk lesu dan sedikit meneteskan air matanya. Bagaimana cara mendapatkan uang, jika ibunya belum bisa membayar SPP sekolah Isak? Saat itu Isak melamun, hatinya berkecamuk, kedua bola matanya yang sayu entah memandang ke arah mana, kebahagiaannya telah hilang entah kemana. Entah apa yang sedang Isak pikirkan, hatinya penuh emosi marah, sedih, takut, dan merasa kehilangan. Sejak ayahnya telah tiada, Isak menganggap dirinya tidak lagi berguna bagi siapapun. Seketika sesuatu melintas dipikirannya, Isak bertekad untuk mengakhiri hidupnya.

”Kalau aku mati, aku bisa susul ayah disana” kata Isak sambil menangis.

Tiba-tiba sahabatnya Zubair datang menghampiri Isak, lalu duduk disebelahnya seraya memberi Isak camilan, 

“Isak pasti belum makan kan?” Zubair melihat temannya yang sedang menangis dengan wajah yang tertutup oleh tangan gemetar itu. 

”Hey, mengapa engkau menangis? Apa ada masalah?” tanya Zubair penasaran. 

Isak berkata sambil sesenggukan, bahwa dirinya tidak sanggup melawan semua cobaan ini. 

“Cobaan apa?” tanya Zubair lagi. 

Dengan suara yang terbata-bata, Isak pun menceritakan semua kejadian yang telah ia alami. Zubair mendengarkan cerita temannya dengan tenang dan saksama. Ia mencoba untuk masuk dan memahami perasaan sahabatnya yang mulai runtuh. Setelah itu, Zubair berkata pada Isak,

“Temanku.. kau tau tidak, Allah itu sudah berfirman dalam surah Al-Insyirah ayat 6, sesungguhnya sesudah ada kesulitan itu ada kemudahan”

“Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Jadi kau tidak perlu takut untuk semua cobaan itu. Allah itu memberi kita cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya” kata Zubair dengan tenang.

“Nasibmu tidak akan berubah jika engkau terus seperti ini wahai sahabatku…Ayo kita maju bersama-sama” bujuk Zubair dengan penuh semangat. 

Mendengar hal itu, hati Isak menjadi tenang dan lebih semangat untuk menaklukan semua permasalahan yang ada. 

“Aku sangat kagum padamu karena selalu memiliki ketenangan dalam segala hal”, kata Isak sambil tersenyum. 

Mereka berdua tertawa dan memakan camilan itu bersama-sama.

Maira dan Jurusan Pendidikan

Karya Halimah Nur Isna  

Ibu sangat ingin Maira tumbuh jadi anak yang sukses. Ibu menyuruh Maira untuk sekolah di sekolah favorit dengan jurusan tata boga.

“Baik, Bu…” ujar Maira.

“Semangat!” kata Ibu tegas.

“Kalau kamu sekolah SMK kamu harus masuk jurusan tata boga” lanjut Ibu.

Maira ingin membantah kalau SMK tidak harus masuk jurusan tata boga, masih ada jurusan yang lain sesuai kemampuan. Menurut Ibu, jurusan tata boga lebih baik daripada jurusan yang lain. Kadang Maira berpikir mungkin menurut ibu itu jurusan yang terbaik untukku.

Ibu dengan pikiran egoisnya berkata “Supaya kamu bisa menjadi chef dan Ibu rumah tangga yang pintar masak”

Akan tetapi, tetap saja itu bukan jurusan yang Maira ingin dan tidak sesuai kemampuan Maira! Argh Maira kecewa. Tetapi Maira tidak ingin membantah Ibu. Jadi ia memilih jurusan tata boga.

Suatu hari, ketika Maira hendak berangkat sekolah, ia merasa berat sekali untuk untuk berangkat ke sekolah dengan jurusan yang tidak diinginkan.

“Maira!” panggil Ibu.

“Kenapa kamu itu? kenapa kamu cemberut dan tidak semangat sekolah?”

“Gapapa bu?” Jawab Maira. Lalu Maira cepat-cepat bersiap untuk sekolah.

“Ayah! Kenapa Maira cemberut dan tidak semangat sekolah untuk pertama kalinya masuk SMK nya?”

Ayah yang saat itu sedang mengenakan dasi kaget.

“Ada apa? Ayah panik.

Ia takut sekali kalau ada sesuatu yang terjadi kepada Maira putri ayah itu.

*saat pulang sekolah*

“Maira, pulang langsung mandi, makam, belajar” ujar Ibu.

“Baik Bu.

*malam setelah belajar*

“Maira sayang anak Ibu sini ke kamar Ibu, Ibu mau bertanya ke kamu sayang?” kata Ibu lembut.

“Baik Bu?”

“Assalamu’alaikum Bu, ini Maira?”

“Waalaikumsalam iya sayang anak ibu, sini masuk sayang”

“Gimana kamu sekolahnya hari ini?” kata Ibu lembut.

“Hm, baik bu alhamdulillah sudah ada teman bu”

“Oke baik, syukurlah tetapi kenapa tadi pagi berangkat sekolah cemberut?” kata Ibu.

“Maira gapapa bu… hanya saja belum bisa menerima keadaan semua ini”

“Ibu khawatir ke kamu sayang, coba ceritakan saja ke Ibu apa penyebabnya?”

“Eum…sebenarnya Maira tidak begitu suka dengan jurusan yang ibu pilih dan tidak sesuai kemampuan Maira”

*Ibu belum sempat jawab ayah masuk kamar*

“Oh ada Maira rupanya, sedang apa kalian?” kata Ayah.

“Gapapa ayah, Maira sedang cerita keluh kesah hari ini” ujar Ibu.

“Oh begitu Ibu paham, tapi itu jurusan yang terbaik bagi kamu sayang yang masih labil”

“Hm ya Bu”

“Maira, itu Ibu terlalu egois, seharusnya ibu juga jangan memaksakan kepada Maira, semua itu tergantung kemampuan dan keinginan masing-masing” ujar Ayah.

“Iya Ayah betul, Ibu salah maafin Ibu ya Maira”.

“Iya Ayah , Ibu, Maira maafin Ibu walau sedikit kecewa tapi gapapa” ujar Maira.

“Untuk sekarang Maira jalanin aja dulu, walaupun itu bukan jurusan dan kemampuan yang kamu miliki dan yang kamu inginkan, semangat putri Ayah!”

“Iya Ayah, siap”

“Oh Ayah sampai lupa, ini Ayah belikan dimsum mentai untuk maira, dan untuk Ibu martabak” ujar Ayah gembira.

“Terimakasih Ayah ganteng” ucap Maira dan Ibu.

“Sama-sama duniaku, I love you more

Hilang Harus Rela

Karya Florencia Irene Iswanto

Detak jantungnya kini tak lagi berisik. Dia telah bahagia, tak lagi merasakan sakit dan derita. Aku berbahagia namun juga sedih untuknya.

“Nak, jika diberi kesempatan lain, tolong kembali menjadi anugerah terbaik untuk ibu ya?” Mungkin hanya itu yang dapat aku ucapkan saat ini. 

Pikiranku terlalu kosong saat tahu bahwa seseorang yang aku kandung dan aku besarkan telah berpulang selamanya. Siang ini adalah jadwal untuk menjenguk buah hatiku. Damar namanya, anugerah terbaik yang diberikan oleh Tuhan untuk hidupku. Ia terdeteksi mengandung penyakit lambung yang sudah sangat parah. Mungkin diriku juga lalai untuk menjaga pola makan dan istirahatnya, hingga Ia harus dirawat di rumah sakit di kota tempat kami tinggal. Sudah sekitar seminggu Damar berdiam di rumah sakit.

Kamar Anggrek nomor 333. Bau obat-obatan menyeruak di hidungku, dapat kulihat anakku sedang berbaring di ranjang, meringkuk menatap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. 

“Apa kabar anak ibu? Bagaimana perasaannya saat ini?” Sedikit tergores hatiku melihatnya menjawab dengan segaris senyum tipis. 

“Apakah ibu telat? Damar sudah makan?” Aku bertanya lagi.

“Damar sudah makan dan ibu sedikit terlambat. Tapi tak apa, suster Ren yang menemani tadi.” Sungguh aku menyesal. 

Namun, tadi aku harus mengurus pesanan kue dari tetangga sebelah yang akan mengadakan acara. 

“Ah, maaf ya, besok ibu datang lebih awal agar Damar dan ibu bisa lebih banyak waktu bersama.” Damar hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

“Ibu, Damar mengantuk, nanti jika Damar tidur, tolong jangan sedih ya? Damar pasti bangun kok.” Untuk apa dia berkata seperti itu? Aku mengernyit bingung, tetapi akhirnya mengangguk pelan.

Aku mengelus pelan kepalanya, bercerita sedikit tentang masa-masa ketika Damar masih bisa bermain bersama teman-temannya. Damar tak menanggapi, tatapannya sendu. Perasaanku semakin tak karuan rasanya. 

“Mungkin belum takdirnya kita bersama lebih lama ya nak. Tetapi ibu selalu menerimamu sebagai anak ibu. Terima kasih nak.”

Rasanya aku menyesal berkata seperti itu. Apakah itu mantra untuk menjauhkanku dengan anakku sendiri? Tepat pukul 02.00 pagi, lima jam setelah Damar memintaku untuk tidak bersedih, sekarang dia meninggalkanku. Dokter berkata virus yang menggerogoti lambung Damar sudah tak terbendung. Kata suster Ren, Damar sering membuang obatnya, sehingga virusnya tidak dapat dikalahkan. 

“Belum waktunya ya nak? Belum waktu nya ibu bisa memelukmu lebih lama. Damar pasti akan selalu mengingat ibu kan? Terima kasih karena kamu sudah mau jadi takdir indah ibu walau hanya sebentar. Kiranya damai jiwamu di sana.” 

Untuk terakhir kali aku mengecup keningnya, memeluk raganya, menikmati parasnya, dan terakhir merasakan keberadaannya di dunia. Manusia memang tidak selamanya, namun terkadang merelakan lebih menyakitkan dari melepaskan. Terima kasih untuk langit malam yang telah menyaksikan tangisku yang telah lama terbendung. Terima kasih untuk bulan dan bintang yang sudah memberikan cahayanya agar aku tak melewati hal yang tersesat.

Saya dan Seekor Anjing

Karya Lulu 

Di siang hari pada saat kelas 3, saya dan saudara saya berencana main ke tempat nenek. Lalu saudara saya menanyakan mau lewat jalan mana.

“Lu….aku merasa bosan lewat jalan biasa” kata saudara saya.

“em….mau lewat mana lagi?” ujar saya.

“em… bagaimana kalo kita lewat sawah saja?” sahut saudara saya supaya tidak merasa bosan dan lebih menantang.

“Boleh…juga tapi aku takut kalo ada ular bagaimana?” jawab saya.

“Engga usah takut takut…masa kamu takut” sahut saudara saya.

“Jangan lewat sawah lah, berbahaya“ ujar saya sambil membujuk saudara saya.

“Arghhh..udah lah gapapa sekali saja” jawab ia sambil menarik tangan saya. 

Akhirnya kita pergi ke tempat nenek melewati sawah, kami jalan di sebelah sungai kecil. Sambil menikmati udara yang sejuk melihat sawah yang hijau, saya masih merasa takut. 

“Kita lewat sini saja ya” ungkap saudara saya.

“Iya hati-hati ya” jawab saya.

Soalnya kita melewati kebun gelap, 

“Ayo Lu… loncat ke sebelah sungai kecil“ kata saudara saya. 

“Sebentar” jawab saya.

Setelah saudara saya loncat ke sebelah sungai, tiba-tiba ada suara yang menakutkan,

“Guk…guk guk!!” ternyata suara anjing yang ada dikebun,

“Tidakkkk!!! Adaa anjingg” kata saudara saya sambil berlari meninggalkan saya.

“Ih…. tungguin aku!” sambil berlari ke arah saudara saya anjing pun mengejar kami berdua sambil bergong-gong tiba-tiba saya terpelosok kedalam sawah.

“Argh…! tungguin” aku sambil berlari menangis karena sandalku tidak bisa diambil. 

“Cepet Lulu!!… keburu anjing makan kamu, udah biarin tinggal saja sandalnya” kata saudara saya, aku sambil berlari. 

Untungnya yang punya anjing ada dan orang itu memanggil anjing itu untuk tidak mengejar saya dan saudara saya, setelah itu paman saya memanggil saya dan saudara saya akhirnya paman saya menghampiri saya yang sedang menangis sesegukan. Lalu paman menanyakan yang terjadi,

“Kamu kenapa kok nangis?” kata paman.

“Tadi kita berdua dikejar anjing” kata saudara saya.

Saya tidak menjawab karena sedang menangis dengan hatinya merasa panik. 

“Sandal kamu kemana yang satunya lagi” kata paman sambil tertawa.

“Itu sandal aku terperosok ke dalam lumpur” kata saya sambil menangis. 

Akhirnya paman saya mengambilkan sandal saya yang tertutup lumpur, setelah diambil saya dan saudara saya berterima kasih kepada paman. Akhirnya paman mengantar kita pulang lewat jalan raya.

Seporsi Bakso Di PIK

Karya Giovany

Nayu sangat menyukai suasana di PIK, rasanya seperti di negara lain. Apalagi, Nayu sangat menyukai toko-toko vintage. Lalu, tibalah hari saat Nayu dan saudara-saudaranya mengunjungi PIK. Mereka datang pukul 11.00 WIB, Nayu dan sepupu-sepupunya pergi beribadah di kuil. Lalu, mereka pergi mencari toko jadul yang ada di sekitar kuil. Setelah 15 menit, Nayu dan salah satu kakak sepupunya yang bernama Arya sudah selesai. Namun, Lionel, Theresa, dan Keanu masih asik memilih.

“Arya, aku lapar, bagaimana jika kita pergi mencari makanan terlebih dahulu?” tanya Nayu dengan wajah cemberut. 

“Ayo, aku juga lapar,” ucap Arya sembari merangkul pundak Nayu. 

“Lionel, Theresia, Keanu, Aku dan Nayu pergi mencari makan ya. Nanti aku kabari!” ucap Arya. 

“Baiklah” ujar mereka secara bersamaan.

Sesampainya di food court, Arya dan Nayu mencari bakso, hingga akhirnya mereka menemukan bakso dengan aroma yang “wah”. Mereka memesan lalu makan.

“Baksonya enak sekali ya disini!” ujar Nayu dan disetujui oleh Arya. Rasanya, Nayu

belum pernah memakan bakso seenak ini dengan bau yang tidak familiar di hidung

mereka. Namun, karena sangat lapar mereka memakannya saja, toh, rasanya juga enak. Ketika Lionel, Theresia, dan Keanu datang, Lionel langsung teriak,

“itu babi!” ujar Lionel. 

Arya dan Nayu kaget bukan main. Mereka langsung minum air putih banyak.

“Benarkah? Pantas saja rasanya sedikit asing!” seru Arya. 

Mereka lalu tertawa bersama. Mendengar hal itu, penjualannya pun tidak memperbolehkan mereka membayar karena itu kelalaian penjual yang tidak memberi label non halal. Setelah itu mereka pun pergi makan di luar PIK untuk antisipasi. 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *