Adu Nyaman Wadah Kreativitas: Senyapnya Perpustakaan vs Hiruk Pikuk Kedai Kopi

Dokumentasi Pribadi Tafana Khairunisa

Purwokerto—Begitu pekan ujian atau tumpukan tugas mulai menghantui, mahasiswa di Purwokerto biasanya langsung sibuk mencari tempat paling pas untuk “nugas”. Perdebatan klasik pun muncul: pilih fasilitas gratisan di perpustakaan kampus atau suasana santai di coffee shop yang kini menjamur di setiap sudut kota.

Perpustakaan kampus memang masih jadi primadona buat mereka yang butuh ketenangan total dan akses buku gratis. Namun, bagi sebagian mahasiswa lainnya, hiruk-pikuk kafe dengan iringan musik latar dan koneksi Wi-Fi justru jadi magnet tersendiri untuk memancing kreativitas.

Manda, salah satu mahasiswa yang sering terlihat di perpustakaan, merasa jika keheningan adalah kunci produktivitasnya. “Di perpus itu jelas gratis dan nggak banyak gangguan. Memang tempatnya didesain khusus buat belajar, jadi rasanya lebih cepat fokus dibanding di tempat umum,” ceritanya saat ditemui di sela-sela waktu perkuliahan.

Berbeda dengan Manda, Nadya justru merasa suasana kaku di perpustakaan terkadang membosankan. Ia lebih memilih mengerjakan tugas di kafe karena suasananya dianggap lebih hidup dan fleksibel. “Kalau di perpus rasanya terlalu kaku. Di kafe kita bisa nugas sambil ngopi santai. Walaupun harus keluar uang tambahan, kenyamanan dan internet yang stabil jadi nilai lebih buat aku,” ungkap Nadya.

Fenomena ini membuktikan kalau urusan tempat belajar itu soal selera dan karakter masing-masing. Perpustakaan menang di aspek ketenangan dan irit di kantong, sementara coffee shop menawarkan kenyamanan dan suasana modern yang lebih fleksibel.

Editor: Cindy

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *