“Mendarah”: Luka yang Mengalir dalam Diam – Karya Nadin Amizah

Purwokerto – Lagu “Mendarah” dari Nadin Amizah sangat berkesan bagi pendengarnya karena liriknya yang begitu menyentuh dan sangat bermakna. Melalui metafora yang kuat dan pilihan diksi yang sederhana, lagu ini berhasil menggambarkan perasaan kehilangan yang mendalam dan sulit diungkapkan secara langsung.

Sejak bait awal, suasana sendu sudah terasa melalui penggalan lirik yang menggambarkan jiwa terpisah dan hati yang terbelah. Gambaran tersebut memperlihatkan kondisi batin seseorang yang masih menyimpan rasa, meski jarak dan waktu telah memisahkan. Tema tentang “rumah yang berbeda dan berjarak jauh” semakin mempertegas adanya keterpisahan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Bagian lirik “Bukan maaf yang kuminta, tapi peluk yang kulupa” menjadi titik emosional yang kuat. Kalimat ini menunjukkan bahwa yang dirindukan bukan sekadar penyesalan, melainkan kehangatan dan kehadiran yang nyata. Sementara itu, kata “mendarah” menjadi simbol bahwa perasaan tersebut telah menyatu dalam diri, mengalir dan menetap tanpa bisa dihapus.

Seorang pendengar bernama Farah turut membagikan kesannya terhadap lagu ini. “Menurutku, Mendarah itu bikin aku benar-benar merasakan feel tentang kehilangan. Rasanya seperti diingatkan lagi pada seseorang yang sudah jauh, tapi perasaannya masih ada,” ujarnya. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa lagu ini tidak hanya dinikmati sebagai karya musik, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para pendengarnya.

Melalui “Mendarah,” Nadin Amizah sekali lagi membuktikan kemampuannya meramu kisah personal menjadi pengalaman kolektif. Lagu “Mendarah” bukan sekadar tentang jarak, melainkan tentang kehilangan yang tetap hidup dan menetap dalam ingatan.

Editor : Tafana Kharunisa

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *