Debut Horor Michelle Ziudith di Alas Roban, Suguhkan Teror dan Drama Emosional

Purwokerto— Film horor terbaru berjudul Alas Roban menghadirkan cerita mencekam yang dibalut drama emosional ibu dan anak. Film ini menjadi debut Michelle Ziudith di genre horor, setelah sebelumnya dikenal lewat berbagai film drama romantis.

Cerita berpusat pada Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal asal Pekalongan yang hidup sederhana bersama putrinya, Gendis (Fara Shakila), yang memiliki gangguan penglihatan. Demi masa depan yang lebih baik, Sita menerima pekerjaan di rumah sakit di Semarang dan memutuskan pindah bersama anaknya. Namun perjalanan mereka berubah menjadi awal teror ketika bus terakhir yang mereka tumpangi melewati kawasan Alas Roban dan mendadak mengalami kejadian aneh di tengah malam. Setelah peristiwa itu, Gendis mulai menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Ia sering mendengar suara misterius, menggambar simbol-simbol aneh, hingga mengalami kerasukan setiap malam. Kondisi tersebut membuat Sita berada di titik terendahnya sebagai seorang ibu. Ia harus berjuang melawan rasa takut sekaligus mencari cara menyelamatkan putrinya.

Penampilan Michelle Ziudith menuai banyak pujian. Ia dinilai berhasil membawakan karakter ibu yang penuh kasih, sekaligus menunjukkan ketakutan yang terasa nyata. Meski belum memiliki anak di kehidupan nyata, chemistry-nya dengan Fara Shakila terlihat kuat dan menyentuh. Beberapa adegan emosional di bagian akhir film bahkan memperlihatkan kemampuan dramatis Michelle yang selama ini menjadi ciri khasnya. Ia juga tampil cukup meyakinkan saat berdialog menggunakan bahasa Jawa dalam beberapa adegan. Selain Michelle dan Fara, film ini juga menghadirkan aktor-aktor berpengalaman seperti Rio Dewanto sebagai sopir ambulans dan Agus Kuncoro sebagai sopir bus. Meski perannya tidak terlalu banyak, keduanya tetap memberikan performa yang solid. Taska Namya dan Imelda Therinne juga tampil maksimal dan menambah ketegangan dalam beberapa adegan penting.

Bagi pecinta film horor, Alas Roban menghadirkan kejutan yang tidak mudah ditebak. Beberapa adegan yang terlihat tenang justru berubah menjadi momen jumpscare. Sebaliknya, ada juga bagian yang terkesan menegangkan tapi tidak menampilkan penampakan sama sekali. Visual hantu dalam film ini dibuat cukup realistis dan tidak berlebihan. Penggunaan efek CGI juga terasa pas dan tidak mengganggu cerita. Selain itu, latar waktu yang mengambil era 1990-an digambarkan dengan detail, mulai dari properti bus, uang kertas lama, seragam rumah sakit, hingga lagu-lagu lawas yang diputar di radio.

Di awal dan akhir film, ditampilkan cuplikan wawancara warga sekitar Alas Roban yang membahas mitos setempat. Hal ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan realitas dan memperkuat nuansa mistisnya. Saat diwawancarai hari ini, salah satu penonton bernama Dita mengaku masih teringat dengan beberapa adegan dalam film tersebut. “Menurut saya, film ini tidak hanya menghadirkan suasana yang menyeramkan, tetapi juga menyentuh secara emosional. Hubungan antara ibu dan anak digambarkan dengan sangat kuat. Ada adegan yang mengejutkan, namun ada pula yang hampir membuat saya menangis.” ujar Dita. Ia juga menambahkan bahwa suasana Alas Roban di film terasa cukup nyata dan membuatnya ikut merasakan ketegangan. “Yang membedakan film ini adalah kekuatan unsur dramanya. Penonton tidak hanya merasakan ketegangan, tetapi juga turut merasakan perjuangan sang ibu.” tambahnya.

Secara keseluruhan, Alas Roban menghadirkan kombinasi horor dan drama yang seimbang. Film ini tidak hanya mengandalkan teror, tetapi juga emosi yang membuat penonton ikut terlibat dalam cerita. Cocok untuk penonton yang ingin merasakan sensasi tegang sekaligus haru dalam satu film.

Editor: Muhammad Nollan Fatwa

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *