Purwokerto—Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan popularitas olahraga lari di kalangan mahasiswa, smartwatch olahraga semakin banyak digunakan sebagai alat pendukung latihan. Salah satu perangkat yang ramai dibicarakan di kelas menengah adalah Garmin Forerunner 165. Jam ini dipasarkan sebagai perangkat dengan fokus pada performa lari dan pemantauan kesehatan, bukan sekadar aksesori gaya hidup. Namun, seberapa relevan perangkat ini bagi pengguna pemula?
Di pasar Indonesia, Garmin Forerunner 165 diposisikan sebagai smartwatch olahraga kelas menengah dengan kisaran harga sekitar Rp3 jutaan. Perangkat ini dibekali layar AMOLED beresolusi tinggi, GPS dual-band untuk meningkatkan akurasi pelacakan rute, sensor detak jantung generasi terbaru, serta fitur pemantauan kesehatan seperti sleep score dan body battery. Di segmen harga yang sama, sejumlah merek lain menawarkan variasi fitur yang lebih beragam, namun Garmin dikenal memiliki reputasi kuat dalam kategori jam olahraga berbasis performa, khususnya untuk pelari dan atlet rekreasional.
Ibnu Nurarif (19), mahasiswa yang telah menggunakan Garmin Forerunner 165 warna putih selama tiga bulan terakhir, membeli jam ini dengan tujuan utama untuk men-tracking olahraga. Dalam praktiknya, penggunaan berkembang tidak hanya untuk lari, tetapi juga untuk memantau kesehatan harian seperti detak jantung dan kualitas tidur. “Tujuan awalnya untuk olahraga, tapi akhirnya kepakai juga untuk monitoring kesehatan,” ujarnya.

Dari sisi performa, Ibnu menilai akurasi GPS menjadi salah satu keunggulan utama. Ia menyebut fitur dual-band pada perangkat ini mampu merekam rute lari secara lebih presisi dibandingkan aplikasi Strava di ponsel. “Kalau dibandingkan dengan Strava, hasilnya cukup signifikan. Rekaman dari HP lebih berantakan, sedangkan Garmin lebih rapi dan presisi,” katanya. Dalam konteks teknis, GPS dual-band memang dirancang untuk meningkatkan akurasi pelacakan, terutama di area dengan gangguan sinyal.
Daya tahan baterai juga menjadi poin penting. Dengan rutinitas lari satu jam setiap hari, Ibnu mengaku perangkat dapat bertahan hingga lima hari dengan sisa daya sekitar 20 persen dari pengisian penuh. Untuk smartwatch berlayar AMOLED, durasi tersebut tergolong kompetitif, mengingat tipe layar ini umumnya lebih konsumtif daya dibanding layar transflective.
Meski demikian, penggunaan selama tiga bulan tidak sepenuhnya tanpa catatan. Ia menemukan beberapa bug pada fitur alerts saat aktivitas yang terkadang tidak berfungsi, serta penilaian sleep score dan power naps yang dinilai belum sepenuhnya presisi. Namun, menurutnya masalah tersebut masih dapat diatasi dengan me-restart perangkat. “Sejauh ini tidak pernah kecewa, kecuali bug kecil itu,” ujarnya.
Dari segi desain, warna putih yang ia gunakan dinilai tidak mudah terlihat kusam meski dipakai rutin. Tampilan jam dianggap sporty, tetapi masih cukup elegan untuk digunakan pada acara semi-formal. Layar AMOLED yang digunakan juga dinilai tetap jelas saat digunakan di bawah sinar matahari.
Jika dibandingkan dengan smartwatch lain di kelas harga yang sama, Ibnu menyadari bahwa ada perangkat kompetitor yang menawarkan fitur lebih banyak. Namun, ia memilih Garmin karena reputasi merek tersebut dalam kategori jam olahraga. “Mungkin ada yang fiturnya lebih banyak, tapi saya lebih percaya pada reputasinya,” katanya. Ia pun menilai produk ini masih worth it, terutama bagi pelari pemula yang membutuhkan akurasi dan stabilitas fungsi inti olahraga.
Secara keseluruhan, Garmin Forerunner 165 tidak tampil sebagai perangkat dengan fitur paling berlimpah di kelasnya. Namun, fokus pada akurasi GPS, ketahanan baterai, serta performa olahraga yang stabil menjadikannya pilihan rasional bagi pengguna yang memprioritaskan fungsi dibanding sekadar variasi fitur. Bagi mahasiswa atau pemula yang ingin serius memantau progres latihan, perangkat ini menawarkan keseimbangan antara kebutuhan teknis dan nilai investasi.
Editor: Zahra Jerolin Hanifah
