Peluang Es Takjil Laris Manis pada Bulan Ramadan

Purwokerto–Di tengah hiruk-pikuk kemacetan sekitar Grendeng menjelang waktu berbuka, ada pemandangan bermacam-macam takjil yang tak pernah absen dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah kesegaran aneka es takjil yang diperjualbelikan oleh Monica.

Monica merupakan salah satu sosok di balik ramainya usaha takjil di kawasan tersebut. Usaha keluarga yang dikelola Monica bersama ibunya ini berkembang pesat, meskipun baru menginjak tahun kedua. Tak tanggung-tanggung, ia telah membuka tiga cabang sekaligus, yaitu di Grendeng, Rejasari, dan Sumampir.

Menu yang ditawarkan sebenarnya sederhana, di antaranya ada es buah, es kuwut, dan es cappuccino cincau. Semuanya dibanderol dengan harga merakyat, yakni Rp5.000. Namun, es buah tetap menjadi jawara yang paling cepat ludes diburu pembeli. “Awalnya cuma pengen nyoba, ternyata ramai, jadinya keterusan,” ujar Monica saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan (6/3/2026).

Aneka jenis minuman takjil yang dijual. (Dok. Pribadi)

Harga bahan baku, terutama buah-buahan sedang merangkak naik dan sulit didapat, tetapi Monica memilih untuk bertahan dengan harga lama. Strategi ini terbukti ampuh. Dalam sehari, ia mampu menjual satu hingga dua roll cup, yang berarti sekitar 50 hingga 100 porsi.

Lokasi di Grendeng yang strategis menjadi kunci utama, walaupun sering terkendala macet dan cuaca hujan. Kehadiran mahasiswa yang tidak langsung mudik pada Ramadan tahun ini memberikan dampak signifikan terhadap omzetnya. “Tahun ini lebih ramai, mungkin karena mahasiswanya banyak yang nggak libur,” tambahnya.

Menurut salah satu pembeli, Lucy, harga yang ramah di kantong menjadi alasan utama ia kembali lagi. “Rasa manisnya pas, buahnya banyak, dan yang pasti tidak overprice. Sangat menyegarkan untuk buka puasa,” ungkapnya.

Usaha yang berjalan lancar tetap tidak luput dari tantangan. Selain faktor alam seperti hujan yang bisa menghambat penjualan, pelanggan juga mulai mengharapkan adanya inovasi dalam sistem pembayaran. “Harapannya ke depan pedagang bisa menyediakan QRIS. Kadang kita enggak siap uang tunai, jadi akan jauh lebih memudahkan kalau tinggal pindai,” ucap Lucy.

Bagi Monica, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk berbagi kesegaran sekaligus memutar roda ekonomi keluarga. Dengan semangat, ia optimis bisnis takjilnya akan terus menjadi bagian dari tradisi berbuka warga Grendeng di tahun-tahun mendatang.

Editor: Anisa Dwi Aryanti

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *