Ebeg Sebagai Jalan Hidup: Falsafah Slamet Menjaga Budaya

Cilacap — Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada sosok yang teguh menjaga warisan leluhur melalui kesenian tradisional. Ia adalah Slamet Subandi, ketua Kesenian Kuda Kepang Turonggo Nitis, seorang seniman asal Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Sosok ini juga pernah menjabat sebagai Ketua Seniman Cilacap Bersatu (SCB) selama lima tahun, dan kini menjadi penasihat organisasi tersebut.

Makna dan Filosofi di Balik Ebeg

Bagi Slamet, kesenian ebeg bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan media penyebaran nilai-nilai ajaran dan kehidupan. “Ebeg itu sebenarnya filosofi dari orang dahulu yang menyebarkan agama. Karena susahnya mengumpulkan orang, maka digunakanlah kesenian untuk menyampaikan ajaran agama,” jelasnya. Menurutnya, ebeg menggambarkan kisah penyebaran agama, khususnya Islam, melalui gerak, dan simbol-simbol tarian.

Ia menambahkan bahwa kuda kepang dan kuda lumping memiliki perbedaan bahan serta daerah asal. “Kuda lumping berasal dari Jawa Timur dan terbuat dari kulit sapi atau kerbau, sedangkan kuda kepang berasal dari Banyumas dan dibuat dari kepangan bambu,” ujarnya. Tarian ini juga sering menggambarkan sosok pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro yang gagah menunggang kuda.

Ebeg itu elingo budayamu, elingo marang gustimu, yang artinya ingat budayamu, dan ingat pula kepada Tuhanmu. Karena kesenian ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pengingat agar kita tetap berpegang pada nilai, dan iman.

Perjalanan Seni dan Filosofi Hidup

Perjalanan seninya dimulai sejak muda. “Saya pertama kali belajar melalui kiprah dalam ketoprak. Tahun 1989, baru saya mendirikan grup kuda kepang sendiri,” kenangnya. Sejak saat itu, ia memodifikasi gerakan tradisional agar lebih menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai aslinya.

Dorongan untuk melestarikan ebeg berasal dari hati nuraninya. “Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, lalu siapa lagi,” jelasnya.

Dalam setiap gerakannya, ebeg mengandung filosofi kehidupan. “Gerakannya menggambarkan orang berwudu dan salat. Tapi sekarang banyak yang keluar dari pakem,” ujarnya. Ia juga menyoroti fenomena penimbul atau pemain yang kesurupan dalam pertunjukan. “Sekarang ini 80% penimbul hanya memakai trik. Mereka bekerja sama dengan pemain agar terlihat menarik, padahal yang benar-benar kesurupan jumlahnya sedikit,” jelasnya.

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika grupnya tampil di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, dan didatangi Menteri Kesenian serta tamu dari luar negeri. “Bahkan orang Belanda ikut menari bersama kami. Itu pengalaman yang tidak terlupakan,” ujarnya dengan bangga.

Bapak Slamet Subandi Ketika Pentas (Sumber: https://www.facebook.com/groups/kompassatria.mediainfojanturan/permalink/3597453203853644/?app=fbl)

Visi dan Misi Bersama Seniman Cilacap Bersatu

Sebagai bagian dari Seniman Cilacap Bersatu (SCB), ia memiliki visi dan misi untuk mempersatukan pelaku seni agar taat aturan, dan saling mendukung. Visi dan misi Slamet Subandi di SCB, yaitu:

  1. Menghimpun para pelaku kesenian ebeg agar taat aturan sehingga kesenian ini diakui oleh pemerintah.
  2. Mempersatukan di antara ketua-ketua rombongan kuda kepang agar bersama-sama melestarikan budaya dan bersatu dalam lingkup seni kuda kepang Kabupaten Cilacap.
  3. Memudahkan pelaku seni untuk saling membantu ketika grup lain membutuhkan dukungan dalam pementasan.

Tantangan dan Inovasi di Era Modern

Namun, jalan pelestarian tidak selalu mudah. Ia mengungkapkan adanya tantangan seperti izin pentas yang rumit, biaya tinggi, dan minimnya bantuan dana. “Kadang orang minta pertunjukan bagus tapi bayarnya murah. Padahal latihan, dan perlengkapan itu menguras tenaga serta biaya,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan organ modern bukan berarti meninggalkan pakem, tetapi sebagai upaya efisiensi, dan inovasi. “Organ modern sekarang sudah memiliki contoh suara bonang, calung, angklung, sampai drum. Jadi kami bisa menampilkan musik lengkap tanpa perlu banyak pemain. Lebih hemat biaya, hemat tenaga, dan tetap bisa memainkan berbagai lagu, dari gending klasik sampai campursari,” jelasnya.

Meski beradaptasi dengan zaman, ia menegaskan bahwa perubahan ini tidak boleh merusak nilai kesenian. “Kami hanya ingin menyesuaikan zaman, bukan merusak pakem. Yang merusak itu kalau ada lawakan vulgar,” tegasnya.

Nilai Spiritual di Balik Kesenian Ebeg

Mengenai unsur spiritual dalam ebeg, ia menjelaskan bahwa setiap pelaku seni memiliki keyakinan masing-masing. “Kami tidak menyembah benda atau pusaka, hanya menghormatinya sebagai bagian dari budaya. Ritual itu bentuk penghormatan, bukan penyembahan,” ujarnya. Ia juga menolak anggapan bahwa ebeg bersifat musyrik. “Kalau saya tiap malam Jumat memberi sesaji ke pusaka, itu justru keliru. Harusnya pusaka yang tunduk kepada manusia,” katanya menegaskan.

Bedakan antara agama, dan kesenian. Keduanya punya jalur masing-masing, tetapi sama-sama mengajarkan kebaikan.

Menjaga Jati Diri Bangsa

Melalui ketulusan dan semangatnya, Slamet Subandi menjadi bukti nyata bahwa melestarikan budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Di tangannya, ebeg bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan jembatan antara tradisi dan kemajuan zaman.

Editor: Cantika Amalia Putri

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *