
Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja semakin marak seiring pesatnya perkembangan media sosial. Istilah-istilah seperti valid, no debat, anjay, gaskeun, vintage, hingga iyagesya menjadi pilihan tutur yang mendominasi percakapan informal sehari-hari. Di era digital, bahasa gaul berkembang sebagai bentuk kreativitas sekaligus identitas kelompok remaja.
Sebuah penelitian berjudul Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja terhadap Kelestarian Bahasa Indonesia di Era Digital menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan slang tidak terlepas dari budaya digital, kebutuhan penguatan identitas kelompok, serta persebaran cepat melalui meme dan konten hiburan. Bahasa gaul dianggap sebagai sarana membangun kedekatan, keakraban, dan eksistensi di media sosial.
Meski demikian, sejumlah akademisi melihat tren ini sebagai tantangan baru bagi ketahanan bahasa Indonesia baku. Penelitian Kembara (2023) menegaskan bahwa dominasi bahasa gaul dapat menurunkan sensitivitas remaja terhadap struktur bahasa formal. Beberapa siswa bahkan dilaporkan mengalami kesulitan beralih ke ragam resmi ketika menulis tugas akademik maupun berkomunikasi dalam konteks formal.
Budaya meme menjadi salah satu faktor utama lahirnya kosakata baru. Banyak istilah populer seperti “vintage” yang kini dimaknai remaja sebagai gaya estetik jadul, berasal dari humor internet yang kemudian viral di TikTok, Instagram, dan X. Kecepatan persebaran inilah yang membuat bahasa gaul mudah diadopsi lintas daerah dan kelompok usia.
Fenomena ini menuntut pendekatan yang seimbang. Para ahli menilai bahwa kreativitas linguistik remaja merupakan hal wajar dalam dinamika bahasa. Tantangannya bukan menghentikan penggunaan slang, melainkan meningkatkan literasi berbahasa agar generasi muda mampu membedakan konteks pemakaian ragam baku dan nonbaku. Dengan demikian, bahasa Indonesia dapat tetap lestari tanpa menghambat kreativitas generasi digital.
Editor: Hestina Novesima Rachmadani
