Berpikir lambat di era scroll cepat (Foto: ilustrasi canva)
PURBALINGGA— Di era digital, informasi hadir dalam hitungan detik. Cukup satu sentuhan jari, layar langsung penuh dengan video pendek, potongan berita, dan cuplikan pengetahuan yang disederhanakan. Budaya instan ini perlahan mengubah cara manusia berinteraksi dengan teks, sekaligus mengancam kedalaman literasi digital.
Literasi digital sejatinya tidak hanya berarti mampu menggunakan gawai atau mengakses internet. Ia mencakup kemampuan membaca kritis, menganalisis informasi, memahami konteks, serta mengevaluasi kebenaran sebuah konten. Namun, ketika ruang digital dipenuhi konten singkat, cepat, dan serba instan, proses berpikir mendalam menjadi semakin jarang terjadi.
Banyak pengguna internet kini terbiasa menyerap informasi dari judul, potongan video, atau caption singkat. Artikel panjang mulai diabaikan. Buku digital jarang disentuh. Tulisan reflektif dianggap membosankan. Lama-kelamaan, perhatian manusia terlatih untuk hanya bertahan beberapa detik, bukan lagi beberapa menit.
Budaya instan ini memunculkan pola baru dalam membaca. Bukan membaca untuk memahami, melainkan membaca untuk segera berpindah. Informasi tidak lagi diproses secara utuh, melainkan dikonsumsi sebagai hiburan cepat. Akibatnya, kemampuan menyaring informasi menjadi menurun, dan masyarakat semakin mudah terpapar hoaks, manipulasi fakta, serta bias algoritma.
Ancaman terbesar bukan hanya pada kemampuan individu, tetapi pada kualitas ruang publik digital itu sendiri. Tanpa literasi digital yang kuat, masyarakat kehilangan daya kritis. Ruang diskusi berubah menjadi arena reaksi cepat. Kolom komentar dipenuhi respons singkat tanpa argumen yang matang. Bahasa menjadi dangkal, pikiran menjadi terburu-buru.
Ironisnya, teknologi yang seharusnya memperluas akses pengetahuan justru berpotensi menyempitkan cara berpikir. Proses membaca yang pelan digantikan dengan kebiasaan menggulir cepat. Proses merenung digantikan dengan kebiasaan berpindah.
Namun, di tengah ancaman tersebut, literasi digital tetap memiliki peluang untuk dipertahankan. Teknologi sebenarnya bisa menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih luas jika digunakan secara sadar. Platform digital bisa menjadi ruang belajar, ruang membaca, dan ruang berpikir, bukan hanya ruang hiburan singkat.
Tantangannya kini terletak pada kesadaran kolektif. Apakah manusia akan terus tunduk pada budaya instan, atau mulai memperlambat ritme untuk kembali menghargai proses berpikir yang utuh.
Di tengah derasnya arus konten cepat, literasi digital bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Ia menjadi benteng utama agar manusia tetap mampu berpikir kritis, membaca dengan utuh, dan memahami dunia secara lebih dalam.
