Purwokerto – Siswa kelas VIII MTs Negeri 3 Banyumas mendapat pengalaman berbeda dalam pembelajaran Bahasa Indonesia setelah mengikuti study tour pada awal November 2025. Usai kegiatan, guru menugaskan mereka untuk menulis laporan perjalanan secara berkelompok dan dikerjakan dari rumah, dengan batas pengumpulan hingga 30 November. Tugas ini menjadi sarana agar pengalaman study tour tidak berhenti sebagai wisata, tetapi berubah menjadi bahan belajar yang bermakna.
Setiap kelompok diminta menyusun laporan berdasarkan fakta yang mereka amati di lokasi kunjungan. Mereka menggabungkan catatan, foto, dan hasil pengamatan menjadi teks yang runtut. Guru menjelaskan bahwa penugasan ini bukan sekadar menulis ulang perjalanan, tetapi mengajak siswa memahami apa saja unsur laporan, di mana informasi penting diletakkan, serta bagaimana menyusun data agar mudah dipahami pembaca.
Dalam prosesnya, siswa memperoleh wawasan pengetahuan tentang struktur laporan dan bahasa faktual. Mereka juga mengasah skill penting seperti menulis efektif, menyaring informasi, dan bekerja sama jarak jauh melalui diskusi daring. Selain itu, guru menekankan etika kelompok mulai dari kejujuran menuliskan fakta, saling menghargai pendapat, hingga membagi tugas secara adil meski tidak berkumpul secara langsung.
Guru Bahasa Indonesia menyampaikan bahwa penugasan ini membuat siswa lebih mudah memahami materi karena mereka menulis berdasarkan pengalaman nyata. “Mereka lebih aktif berdiskusi, lebih teliti memilih data, dan terlihat menikmati proses menulisnya,” ujarnya, Selasa (25/11).
Dengan mengubah pengalaman study tour menjadi laporan, MTs Negeri 3 Banyumas menegaskan bahwa pembelajaran bahasa bukan sekadar teori di buku, tetapi keterampilan hidup yang melatih cara berpikir, bekerja, dan bersikap. Di sinilah pendidikan menemukan maknanya ketika perjalanan sederhana mampu menumbuhkan siswa yang lebih berwawasan, terampil, dan beretika.
Editor: Siti Nurhalimah
