Purwokerto — Gelombang penggunaan singkatan gaul di media sosial semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir. Ungkapan seperti “btw”, “idk”, “wkwk”, “ngab”, “bestie”, hingga “afk” kini tidak hanya ramai di ruang digital, tetapi juga mulai masuk ke percakapan sehari-hari. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat yang menilai kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi mutu dan kebiasaan berbahasa, terutama di kalangan remaja.
Singkatan dan bahasa gaul memang muncul sebagai bentuk komunikasi cepat dan praktis. Namun, beberapa warga menilai penggunaan yang berlebihan dapat mengaburkan batas antara bahasa formal dan informal.
“Saya nggak masalah sama bahasa gaul, tapi kadang anak-anak sekarang kebawa sampai ke situasi resmi. Pernah ada yang kirim pesan ke saya pakai ‘btw’ dan ‘idk’. Rasanya kurang pas saja,” ujar Uswa (24), warga Purwokerto, saat ditemui pada Sabtu (21/11).
Hal serupa juga disampaikan oleh Adit (30), seorang karyawan swasta yang mengaku beberapa kali menjumpai penggunaan singkatan gaul dalam email pekerjaan. “Menurut saya, itu tanda kalau orang sudah terlalu terbiasa berbahasa ala media sosial. Jadinya mereka kurang peka kapan harus pakai bahasa yang lebih sopan dan baku,” tuturnya.
Meski begitu, sebagian masyarakat lainnya memandang perkembangan ini sebagai hal yang wajar. Mereka menilai bahasa gaul hanyalah bagian dari perubahan zaman.
“Menurut saya, bahasa itu pasti berkembang. Selama kita masih tahu kapan harus pakai bahasa baku, nggak masalah sih tetap pakai bahasa gaul. Yang penting ngerti konteksnya,” kata Rahma (19), mahasiswi, yang menganggap fleksibilitas bahasa sebagai bentuk kreativitas.
Sejumlah warga pun berharap edukasi literasi digital diperkuat agar masyarakat tetap mampu menempatkan bahasa sesuai konteks. Mereka menilai penting adanya kesadaran bersama untuk menjaga fungsi bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang efektif dan tetap santun, tanpa mengekang kreativitas berbahasa generasi muda.
Editor: Hestina Novesima Rachmadani
