Purwokerto – Menjelang akhir tahun, perayaan malam Tahun Baru dengan kembang api telah menjadi bagian penting dari budaya modern di berbagai negara. Tradisi yang berasal dari Tiongkok kuno ini, kini menyebar ke seluruh dunia sebagai simbol kegembiraan, harapan, dan semangat baru.
Seiring pergantian waktu, nyala warna-warni kembang api yang menerangi langit malam dianggap sebagai ekspresi visual dari merayakan awal yang baru. Asal-usul tradisi kembang api dapat ditelusuri hingga Dinasti Han, ketika masyarakat membakar bambu untuk menimbulkan suara letupan. Laporan Kompas dan Antara menyebut bahwa praktik sederhana ini kemudian berkembang menjadi kembang api modern setelah ditemukannya bubuk mesiu pada masa Dinasti Tang, dan sejak itu dianut dalam berbagai perayaan besar seperti Tahun Baru, pernikahan, hingga festival publik. Secara budaya, kembang api tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi sebagai ritual simbolik yang menggambarkan pemutusan dari masa lalu sekaligus penyambutan lembaran baru. Di malam pergantian tahun, masyarakat di berbagai belahan dunia berkumpul bersama keluarga atau teman, menjadikan momen menyaksikan kembang api sebagai ruang refleksi dan harapan.
Namun, mendekati akhir tahun, perhatian terhadap tradisi ini semakin meluas bukan hanya karena keindahan dan maknanya, tetapi juga karena dampak ekologis yang menyertainya. Penelitian yang dipublikasikan melalui National Institutes of Health (PMC) menunjukkan bahwa konsentrasi partikel halus PM2.5 dapat melonjak lebih dari 150% sesaat setelah pertunjukan kembang api berlangsung. Senyawa logam seperti barium, strontium, dan aluminium, bahan yang memberi warna-warna khas pada kembang api terlepas ke udara dalam bentuk partikel mikroskopis yang mudah terhirup dan berisiko bagi kesehatan. Dalam laporan Deutsche Welle, disebutkan bahwa di Jerman ledakan kembang api pada malam Tahun Baru dapat menyumbang hingga 15% total emisi debu halus tahunan yang biasanya dihasilkan kendaraan bermotor. Fakta ini sejalan dengan paparan Kompas yang menyoroti bahwa partikel tersebut dapat memperburuk kondisi pernapasan dan kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan.
Kekhawatiran itu membuat sejumlah negara dan pemerintah kota mulai mengambil langkah antisipatif. Beberapa daerah menerapkan aturan ketat mengenai lokasi, durasi, serta jenis kembang api yang boleh digunakan, sementara kota-kota besar seperti Shanghai, Sydney, dan Rotterdam mulai melirik alternatif yang lebih ramah lingkungan. Pertunjukan cahaya berbasis drone dan laser, yang tidak menghasilkan polusi udara, semakin dipertimbangkan sebagai pengganti kembang api tradisional. Antara mencatat bahwa Tiongkok bahkan telah mengembangkan petasan rendah sulfur sebagai upaya mengurangi kontribusi polusi saat perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek.
Walau demikian, bagi banyak masyarakat, kembang api tetap menjadi elemen yang tak tergantikan dalam identitas budaya pergantian tahun. Keindahan visualnya, makna simboliknya, serta kemampuan menyatukan massa dalam satu momen kolektif menjadikan tradisi ini sulit dipisahkan dari perayaan akhir tahun. Namun dalam konteks dunia modern yang semakin sadar lingkungan, tradisi ini dituntut untuk bertransformasi. Perayaan dapat tetap berlangsung meriah, tetapi dengan pilihan yang lebih bertanggung jawab agar langit yang menyala pada detik pertama tahun baru tidak meninggalkan kualitas udara yang memburuk pada pagi harinya.
Editor: Mahza Nurul Azizah
