
Persembahan spesial Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni Teater ISI Yogyakarta bersama Omah Teater Jogja, dalam memperingati Hari Teater Sedunia telah dilaksanakan pada Rabu, 27 Maret 2024. Acara yang diselenggarakan di Plaza Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, menjadi ajang silaturahmi dan bertukar pengalaman antara keluarga besar Omah Teater, Mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta, dan seluruh masyarakat umum. Salah satu rangkaian acara yang berhasil terlaksana dengan meriah dari antusiasme penonton dalam menikmati pertunjukan adalah Jaranan Rampokan Singo Barong Rogo Sekar Manunggal.
Kesenian Jaranan Rampokan Singo Barong merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa Timur yang cukup popular, menghibur, dan banyak mengangkat nilai kebudayaan daerah sekitarnya. Dalam durasi kurang lebih 30 menit, tarian rampokan singo barong menceritakan tentang pasukan berkuda Kelono Sewandono, yang dihadang oleh pasukan Macan Lodoyo dan beberapa pasukan lainnya, termasuk Kewan Alas, Macan Kumbang, ular, dan naga, untuk menyelesaikan misi memboyong Dewi Kilisuci di Kadipaten Kediri.
Pertunjukan Jaranan ini, tidak akan meriah tanpa keberagaman instrumen gamelan yang digunakannya. Adapun instrumen yang digunakan dalam gamelan jaranan, seperti kendang bem dan batang, saron pelog, demung pelog, slompret, kempul dan gong suwuk-ageng, serta kenong pelog. Tak hanya itu, vokal sinden dan bapa atau pawang, turut menjadi bagian penting dalam pertunjukan jaranan.

Hal menarik lainnya, dapat dilihat dari piranti yang digunakan. Piranti pertama, yaitu cok bakal yang difungsikan sebagai sajen racut dengan simbol ungkapan syukur. Kedua, bunga setaman menjadi pengingat kehidupan manusia yang bersatu dengan alam. Kemudian, pecut atau cambuk menjadi simbolis kehidupan manusia yang seharusnya selalu ingat terhadap Sang Pencipta dan barong menyimbolkan sifat angkara murka yang mengingatkan sifat buruk manusia.
Menurut Febri Yusnando, Mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta mengatakan, ”Kegunaan jaranan selain sebagai hiburan masyarakat, juga sebagai simbol gambaran manusia hidup yang berbentuk pertunjukan ritual sebagai wujud rasa syukur manusia kepada alam dan Tuhannya.”
“Terdapat part trance sebagai gambaran, jika manusia mengedepankan nafsu hingga lupa dengan Tuhannya, maka tingkahnya sama dengan hewan yang disimbolkan melalui topeng dan barong,” jelasnya.