Merawat Budaya, Merangkul Disabilitas: Ni Kadek Astini Raih Penghargaan Changermaker of the Year TikTok Awards 2025

Penghargaan ini diberikan kepada individu yang menciptakan perubahan positif melalui tindakan nyata. Ia dinilai mampu mengidentifikasi masalah sosial terkait pelestarian budaya tari dan memberikan solusi melalui edukasi digital, pelatihan inklusi, dan karya kreatif yang mengangkat budaya Bali.

Melalui konten TikTok yang menjangkau nasional hingga mancanegara, ia memperkenalkan budaya Bali secara luas, dari teknik gerak, makna tarian, nilai filosofi, hingga kehidupan sanggar.

“Saya membuat konten di TikTok karena jangkauannya sangat luas. Di sana kita bisa mengenalkan budaya, tidak hanya di daerah sendiri, tetapi hingga mancanegara,” jelasnya.

Penerimaan penghargaan (sumber: siaran langsung SCTV)

Ni Kadek Astini menciptakan perubahan tentang cara pandang seseorang bahwa orang penyandang disabilitas bukan menjadi hambatan untuk terus berkarya, terutama di bidang tari yang ia geluti. Ni Kadek Astini mangatakan, “Saya memberikan ruang terhadap penyandang disabilitas karena saya sendiri melihat anak-anak disabilitas itu sangat luar biasa.” Hal ini dapat diartikan bahwa tari bukan hanya sebagai estetika, tetapi juga alat perubahan sosial. Dengan dasar kecintaan terhadap budaya Bali, ia menghadirkan tari sebagai ruang pemberdayaan lintas identitas, termasuk bagi penyandang disabilitas.

Etika budaya yang ia pegang sejalan dengan nilai universal seni, menghormati martabat manusia, merawat tradisi, dan menciptakan akses seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin belajar.

Kesenian tari telah lama menjadi media pembentuk karakter dan jati diri masyarakat. Seni dapat menjadi ruang pemberdayaan, terutama bagi kelompok yang rentan. Seni tari ini dapat menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri, ekspresi, dan kesetaraan bagi anak-anak disabilitas. Melalui permainan gerak sederhana, pendekatan komunikatif, dan penggabungan elemen budaya seperti huruf Braille dan bahasa isyarat, seni terbukti mampu membuka ruang bagi inklusivitas.

Seni gerak bukan lagi milik komunitas tertentu, tetapi milik semua individu, termasuk mereka yang memiliki hambatan fisik atau sensorik. Seni menjadi wadah menyatukan, bukan membedakan.

Ni Kadek Astini bercerita, “Awal mulai dibangunnya sanggar ini karena kecintaan saya terhadap seni budaya dan di sini saya kepengen memberikan wadah kepada anak-anak generasi penerus untuk mengasah bakatnya di bidang menari.” Ia memperlihatkan bahwa nilai budaya tidak sekadar diajarkan, tetapi juga diwariskan melalui penguatan karakter dan ruang belajar yang inklusif.

Penerimaan penghargaan (sumber: siaran langsung SCTV)

Penghargaan Ni Kadek Astini bukan hanya penghargaan personal, tetapi juga bagi budaya, komunitas disabilitas, dan generasi muda Indonesia. Ia membuktikan bahwa seni tari bukan sekadar pertunjukan, melainkan kekuatan sosial yang mampu menggerakkan perubahan.

Penghargaan Changemaker of the Year menjadi simbol bahwa kreativitas digital berdampingan dengan pelestarian budaya tradisional, dan bahwa inklusivitas selalu menemukan panggungnya ketika ada orang-orang yang berani membuka jalan.

Editor: Anisa Dwi Aryanti

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *