Di tengah arus modernisasi, warga Dusun Malompong yang terletak di wilayah pegunungan Majenang masih setia memegang teguh warisan leluhur. Tradisi Sedekah Bumi menjadi bukti nyata rasa syukur masyarakat setempat terhadap alam yang telah menghidupi mereka secara turun-temurun.
Untuk mendalami makna di balik tradisi ini, penulis menemui Sarkim, sesepuh adat Dusun Malompong, di kediamannya pada 30 November 2025.
Menurut penuturan Sarkim, Sedekah Bumi di Malompong bukan sekadar ritual biasa. Tradisi ini memiliki jadwal khusus, yakni diperingati setiap tanggal 10 di Bulan Sura (Muharram).
“Tujuan utamanya itu untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Kita kan tinggal di bumi, makan dari hasil bumi, jadi harus bersyukur,” ungkap Sarkim.
Ritual Unik dan Nilai Sosial
Prosesi Sedekah Bumi di Malompong memiliki tata cara yang unik. Sarkim menjelaskan urutan acara diawali dengan penyembelihan kambing. Daging kambing tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kebersamaan. Namun, ada satu ritual khusus yang menjadi ciri khas.
“Sesaji yang isinya beras merah, beras putih, kopi, teh, air putih, dan lain-lain itu dimasukkan ke dalam lubang tanah bekas darah penyembelihan kambing tadi, lalu didoakan oleh sesepuh,” jelasnya merinci prosesi tersebut.
Tak hanya berhenti pada ritual adat, Sedekah Bumi di Malompong juga memadukan nilai religius dan sosial. Acara dilanjutkan dengan santunan anak yatim dan doa bersama yang dipimpin oleh Kayim setempat. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan makan bersama seluruh warga dan dihadiri oleh perangkat desa, menciptakan suasana guyub rukun yang hangat.
Pesan untuk generasi muda
Sebagai sesepuh, Sarkim menitipkan harapan besar kepada generasi muda di Malompong. Ia berharap anak-anak muda tidak melupakan akar budayanya.
“Pesan saya supaya generasi penerus terus bersyukur terhadap adanya bumi dengan cara terus melestarikan tradisi yang ada, yaitu Sedekah Bumi ini,” pungkas Sarkim menutup pembicaraan.
Editor: Yasfika Afilia
