Dari Tempurung Terabaikan ke Produk Bernilai Tinggi: Jejak Safi’i Menggerakkan Ekonomi Desa

(Sumber : Dokumetasi Pribadi)

Purwokerto — Di Desa Karangklesem, kreativitas tumbuh dari sesuatu yang kerap dipandang sebelah mata. Di tangan Safi’i, limbah batok kelapa yang dahulu hanya menjadi sisa produksi kopra kini menjelma menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi sekaligus identitas kreatif daerah.

Kerajinan batok kelapa khas Purwokerto merupakan inovasi pengolahan tempurung kelapa tua menjadi produk seni terapan yang fungsional dan bernilai estetika. Hasilnya mencakup berbagai barang kebutuhan dan dekorasi, seperti cangkir, mangkuk, lampu hias, tas, celengan, serta aksesori interior. Keunggulannya terletak pada tekstur alami yang keras dan berwarna gelap, sehingga menghadirkan kesan eksotis dan ramah lingkungan. Setiap produk memiliki keunikan karena pola seratnya berbeda, yang sekaligus meningkatkan nilai artistik dan daya saing di pasar produk berkelanjutan.

Safi’i, warga Desa Karangklesem yang sebelumnya menekuni usaha kopra, menjadi sosok di balik pengembangan kerajinan batok kelapa tersebut. Pengalaman panjangnya dalam mengolah kelapa membuatnya memahami potensi setiap bagian buah, termasuk tempurung yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah semata. Kepekaannya membaca peluang mendorongnya melakukan diversifikasi usaha dengan memanfaatkan batok kelapa sebagai bahan baku kerajinan bernilai ekonomi. Dalam menjalankan usahanya, Safi’i tidak semata berorientasi pada keuntungan pribadi, melainkan juga melibatkan warga sekitar dalam proses produksi, sehingga kegiatan ini berkembang menjadi usaha kolektif yang memberikan dampak sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

Usaha kerajinan batok kelapa ini dirintis pada tahun 2009 dengan produksi sederhana dan pemasaran berbasis jaringan lokal. Seiring waktu, peningkatan kualitas dan konsistensi produksi mendorong perkembangan usaha hingga mampu bertahan dan bersaing dalam industri kreatif yang semakin kompetitif, membuktikan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi fondasi jangka panjang. Berlokasi di Desa Karangklesem, Pakuncen, proses produksi dilakukan secara manual dengan ketelitian tinggi, sementara jangkauan pemasaran telah meluas ke luar daerah sehingga dikenal sebagai salah satu produk unggulan yang merepresentasikan kreativitas lokal Banyumas.

Latar belakang munculnya ide ini berangkat dari kegelisahan Safi’i melihat banyaknya limbah batok kelapa yang terbuang sia-sia. Sebagai pengusaha kopra, ia menyadari bahwa tempurung kelapa memiliki potensi lebih besar daripada sekadar bahan bakar. Keinginan untuk memberi nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga desa menjadi motivasi utama pengembangan usaha ini.

“Awalnya saya berpikir, sayang sekali kalau batok kelapa hanya dibakar atau dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah dengan kreativitas, nilainya bisa jauh lebih tinggi,” ungkap Safi’i.

Ia juga menambahkan, “Semakin rumit bentuknya, harganya bisa semakin mahal karena prosesnya cukup lama dan membutuhkan ketelitian.”

Dorongan untuk memberdayakan masyarakat sekitar turut memperkuat komitmennya. Dengan membuka lapangan pekerjaan baru, ia berharap perekonomian desa dapat meningkat dan warga memiliki sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan.

Sejalan dengan komitmen tersebut, proses produksi kerajinan batok kelapa dilakukan secara bertahap dan terstruktur dengan menuntut ketelitian tinggi pada setiap pengerjaannya. Tahapan diawali dengan pemilihan batok kelapa tua yang keras dan berwarna gelap, kemudian dibersihkan dari sisa serabut serta kotoran sebelum dihaluskan menggunakan amplas agar permukaannya rata dan nyaman disentuh. Selanjutnya, batok dibentuk sesuai desain melalui proses pelubangan dan perakitan, terutama untuk produk yang terdiri atas beberapa komponen. Pada tahap akhir, permukaan dilapisi pernis atau melamin guna menghasilkan tampilan mengkilap sekaligus memperkuat daya tahan produk. Seluruh rangkaian tersebut memadukan keterampilan teknis dan sentuhan artistik, sehingga kualitas akhir sangat ditentukan oleh detail pengerjaan dan tingkat kerumitan desain yang memengaruhi lama waktu produksi.

Melalui proses yang dikerjakan secara cermat dan berkelanjutan tersebut, perjalanan Safi’i membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari bahan baku mahal, melainkan dari keberanian melihat potensi pada sesuatu yang kerap dianggap tidak bernilai. Konsistensinya dalam menjaga kualitas sekaligus memberdayakan warga desa menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari lingkungan sederhana. Dari batok kelapa yang tampak biasa, ia menghadirkan karya yang tidak hanya memperkuat identitas lokal Banyumas, tetapi juga membuka ruang harapan ekonomi bagi masyarakat desa.

Editor : Irhan Sasi Kirana

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *