
Sumber Documen (Dokumen Pribadi Ayu)
Purwokerto— Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar pementasan drama dan pameran fotografi. Kegiatan tersebut bertajuk Jagat Rasa, sebuah pentas seni yang memadukan ekspresi bahasa, seni peran, dan visual dalam satu rangkaian acara. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi kreativitas mahasiswa sekaligus wadah apresiasi seni di lingkungan kampus.
Pentas seni tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2023. Seluruh tamu undangan pun turut antusias menghadiri acara ini, di antaranya Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Wakil Dekan I, II, dan III Fakultas Ilmu Budaya, seluruh dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, serta dosen lintas mata kuliah yang mendampingi proses kreatif mahasiswa, seperti Ibu Monik selaku dosen fotografi dan Ibu Ambita sebagai dosen penyutradaraan.
Kegiatan Jagat Rasa digelar selama tiga hari, dengan hari pertama menjadi momen pembukaan resmi seluruh rangkaian acara. Seluruh kegiatan dipusatkan di Aula Fakultas Ilmu Budaya yang pada hari pertama difungsikan sebagai titik awal bagi seluruh penonton sebelum mereka diarahkan menuju area pameran fotografi.
Alur masuk melalui Aula pada hari pertama sengaja dirancang agar penonton dapat menyaksikan prosesi pembukaan resmi terlebih dahulu. Dengan demikian, penonton memperoleh pemahaman awal mengenai konsep dan makna tema Jagat Rasa sebelum menikmati pementasan drama dan pameran fotografi. Pada hari kedua dan ketiga, pengunjung dapat langsung memasuki area pameran karena acara telah resmi dibuka.

Sumber Documen (Documen Pribadi Ayu)
Pembukaan kegiatan dilakukan secara simbolis melalui pemukulan gong oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya Jagat Rasa, sekaligus simbol dibukanya ruang ekspresi dan perayaan kreativitas mahasiswa.
Antusiasme penonton tampak jelas pada hari pertama pelaksanaan. Salah satu panitia, Ayu, menyampaikan bahwa Aula dipenuhi ratusan pengunjung. “Aula dipenuhi sekitar 300 orang pada hari pertama. Sebanyak 183 orang merupakan penonton, sementara 117 lainnya adalah panitia, yang sebagian turut menyaksikan pertunjukan. Dari jumlah panitia tersebut, sekitar 40 mahasiswa terlibat langsung sebagai penampil di atas panggung,” ujarnya.
Menurut Ayu, tingginya jumlah penonton juga didukung oleh sistem penjualan tiket yang dilakukan secara online dan on the spot (OTS). Penjualan tiket OTS pada hari pertama tercatat cukup tinggi dan menunjukkan besarnya minat masyarakat kampus terhadap kegiatan tersebut.
Melalui Jagat Rasa, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan dialog emosional antara pencipta dan penikmat seni. Pentas seni ini membuktikan bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, melainkan juga ruang hidup bagi kreativitas dan perasaan. Jagat Rasa menjadi perayaan bahwa bahasa tidak hanya dibaca dan dipelajari, tetapi juga dirasakan di panggung, di ruang pamer, dan di hati penontonnya.
Editor: Eki Latifa Nikmah
