Purwokerto — Di tengah dinamika kampus yang riuh, kelas yang berganti tiap jam, percakapan yang tak pernah selesai, hingga agenda organisasi yang saling tindih, perpustakaan menjadi satu-satunya ruang yang tetap tenang. Tempat itu seolah memiliki detak waktu sendiri, lebih lambat dan lebih lembut. Namun, bagi banyak mahasiswa, perpustakaan bukan hanya sekadar ruang sunyi untuk membaca. Tempat itu adalah tempat pelarian, tempat penyembuhan, dan kadang tempat untuk menata ulang diri.
Sebagai mahasiswa, saya sering melihat perpustakaan sebagai ruang yang netral. Tidak ada tuntutan untuk terlihat estetis, tidak ada standar sosial media yang harus dipenuhi, dan tidak ada kewajiban untuk selalu produktif di mata orang lain. Di perpustakaan, semua orang berada pada level yang sama: sama-sama berjuang memahami materi kuliah yang kadang lebih rumit dari yang terlihat di slide dosen.
Namun, tidak dapat dimungkiri, perpustakaan kampus juga memiliki tantangan tersendiri. Banyak mahasiswa mengeluhkan ruang baca yang terbatas, stop kontak yang masih sering rebutan, atau koleksi buku yang tidak selalu terbaru. Belum lagi jam operasional yang kadang tidak sesuai kebutuhan mahasiswa yang produktif di malam hari. Di balik kesunyiannya, perpustakaan menyimpan kontradiksi: tempat itu sangat dibutuhkan, tetapi tidak selalu mampu mengakomidasi kebutuhan seluruh mahasiswa.
Meski begitu, ada satu hal yang membuat perpustakaan tetap relevan yaitu suasana yang tidak tergantikan. Tidak ada aplikasi belajar, kafe, atau co-working space yang bisa meniru nuansa hening yang penuh konsentrasi itu. Di antara barisan rak yang berjajar, mahasiswa menemukan ritme belajar masing-masing, pelan, teratur, dan stabil. Di tempat itu pula, mahasiswa sering menyadari bahwa proses belajar bukan soal cepat atau instan, tetapi soal ketekunan.
Perpustakaan kampus bukan sekadar bangunan. Tempat itu adalah ruang tumbuh di mana mahasiswa merasa aman untuk gagal, mencoba lagi, dan memahami sesuatu dari awal. Mungkin fasilitasnya belum sempurna. Mungkin koleksinya perlu diperbarui. Tetapi perpustakaan tetap menjadi ruang di mana banyak dari kita belajar menjadi lebih tenang dan fokus.
Pada akhirnya, perpustakaan adalah pengingat bahwa dunia akademik tidak hanya dibangun oleh tugas dan deadline, tetapi juga oleh momen-momen hening yang menenangkan. Tempat di mana sunyi mengajari kita untuk mendengar diri sendiri.
Editor: Rafa Nasifa Rahmah
