Tersenyum di Atas Luka: Perjuangan Mahasiwa yang Harus Bisa Semuanya

Dokumentasi (Foto: https://share.google/images/72wIFAfa8BBdk8wRu)

Purwokerto — Fenomena mahasiswa yang kuliah sambil bekerja terus meningkat, terutama di tengah tuntutan ekonomi yang semakin besar. Banyak mahasiswa harus menjalani dua peran sekaligus: menjaga prestasi akademik dan tetap produktif di dunia kerja. Kondisi ini memunculkan banyak opini mengenai betapa beratnya beban yang harus mereka tanggung.

Salah satunya adalah Alexa, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto. Sejak awal semester ini, ia membagi kesehariannya antara ruang kelas dan tempat kerjanya yang berada tidak jauh dari kampus. Menurutnya, keputusan untuk bekerja dilakukan karena kebutuhan hidup yang terus meningkat. “Kuliah sambil kerja itu capek banget, tapi namanya kehidupan, harus dijalani untuk mencukupi kebutuhan,” jelasnya.

Namun beban mahasiswa pekerja tidak berhenti pada soal waktu dan tenaga. Alexa mengaku bahwa tantangan terbesar bagi mahasiswa sambil kerja adalah tuntutan untuk selalu bisa—baik dalam tugas kampus maupun dalam pekerjaan. Mereka dituntut selalu hadir, selalu tepat waktu, dan selalu mampu menyelesaikan tugas, meski kondisi fisik sering kali tidak mendukung.

Tak jarang, mahasiswa seperti Alexa juga mengalami perlakuan meremehkan. Ada yang menganggap mereka tidak fokus kuliah, tidak profesional, atau tidak mampu membagi waktu. Padahal, menurut Alexa, tekanan itulah yang membuat mahasiswa pekerja harus berjuang dua kali lebih keras dibanding mahasiswa lain. “Kadang kami diremehkan, padahal justru kami berusaha lebih keras dari yang terlihat,” tambahnya.

Untuk menyiasati hal tersebut, Alexa menyusun jadwal harian yang lebih teratur, memilih shift kerja yang fleksibel, dan berusaha menyelesaikan tugas kuliah di sela waktu luang. Meskipun melelahkan, ia mengakui bahwa pengalaman ini membantunya lebih disiplin, mandiri, dan siap menghadapi dunia kerja setelah lulus.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mahasiswa sambil kerja tidak hanya berjuang secara akademik, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan mental yang sering kali tidak terlihat. Banyak dari mereka berharap adanya dukungan lebih dari pihak kampus maupun lingkungan sekitar, agar perjuangan menjalani dua peran sekaligus dapat dipahami dan dihargai.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *