Gelembung Harapan di Trotoar Kota: Kisah Sang Penjaga Tawa Malam

(Dokumentasi Pribadi)

Malam kian merambat di sudut kota, namun bagi pria paruh baya yang bersimpuh di atas trotoar ini, waktu seolah berhenti di balik barisan botol plastik. Di hadapannya, berjajar rapi “senjata” pembuat bahagia: botol-botol berisi cairan sabun dengan stik peniup berwarna merah muda, hijau neon, dan biru langit. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, botol-botol itu nampak seperti kristal warna-warni yang mengadu nasib di tengah kerasnya aspal.

Tangannya yang legam karena cuaca dengan cekatan merapikan satu per satu dagangannya. Sesekali, ia mengambil satu tangkai peniup, mencelupkannya ke dalam cairan, dan memberikan satu tiupan lembut. Seketika, puluhan gelembung bening meluncur ke udara, berdansa mengikuti arah angin, dan membiaskan warna pelangi dari pantulan lampu merkuri. Bagi orang dewasa yang melintas cepat, itu mungkin hanya sabun. Namun bagi anak kecil yang menatap dari kaca jendela mobil, itu adalah keajaiban yang bisa dibeli dengan selembar uang ribuan.

Meski gempuran mainan digital kian masif, sang penjaja gelembung ini tidak gentar. Ia adalah saksi bisu bagaimana kota berubah, namun keinginan manusia akan kebahagiaan sederhana tidak pernah pudar. Setiap botol yang terjual bukan sekadar transaksi rupiah, melainkan penyambung nafas dapur di rumah. Di antara kepulan asap knalpot dan klakson yang bersahutan, ia tetap setia menjadi “insinyur kebahagiaan”, meniupkan harapan-harapan kecil ke udara, meski ia tahu gelembung itu akan pecah pada akhirnya.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *